Akankah Paslon Pilkada Surabaya Peduli Dengan Seniman Lukis?

Terobosan seniman lukis asli arek Suroboyo, yang membuat karya seni lukisnya tidak lagi berkonotasi mahal dan mewah, karena dijual ala kaki lima dengan harga yang sangat murah, ternyata tidak mampu menarik perhatian Rasiyo-Lucy maupun Risma-Whisnu sebagai pasangan calon di Pilkada Surabaya 2015.

SURABAYA (Suarapubliknews.net) – Sebagai seniman lukis asli arek Suroboyo, M Anis menganggap bahwa pemkot Surabaya hanya peduli terhadap beberapa jenis kesenian, yang antara lain seni Ludruk dan Reog Ponorogo, sementara untuk seni lukis, dianggapnya masih termarginalkan. Buktinya, tak satupun galeri atau kampong seni yang dibangun, kecuali hanya ruangan sempit di Balai Pemuda Surabaya.

“Hampir dimana-mana, dibangun tempat jualan makanan, mana tempat buat kami sebagai pelukis yang asli arek Suroboyo, kesenian itu bukan hanya ludruk dan reog, tapi lukisan itu juga seni yang harus diangkat sebagai ikon di kota ini,” terangnya kepada Suarapubliknews.net. (9/11/2015)

Alhasil, M Anis membuat terobosan baru meskipun terbilang sedikit nyeleneh, khususnya di Kota Surabaya. Seniman gaek mencoba hal yang baru dengan cara beda, menggunakan motor roda tiga. Jualan lukisannya pun dengan harga kaki lima.

M Anis yang pernah penjadi wartawan ini memulai usaha barunya dengan jualan lukisan menggunakan motor roda tiga di Jalan Yos Sudarso, atau tepatnya di utara Gedung DPRD Surabaya (kawasan stren Kalimas).

Ia memilih di jalur jogging track tepi Sungai Kalimas. Motor roda tiga miliknya itu diparkir dengan cara tanpa merugikan kepentingan umum. Belasan lukisan dipajang tanpa mengurangi estetika dan merusak pemandangan taman yang dibangun di era Wali Kota Tri Rismaharini itu.

“Saya mencoba jualan lukisan ala pedagang kaki lima dengan motor gerobak. Tanpa meninggalkan sampah dan merusak keindahan kota,” kata M Anis kepada wartawan yang menemuinya.

Usaha yang dirintis M Anis termasuk langkah berani. Bagaimana tidak, lukisan kerap dinilai sebagai barang seni yang bernilai mahal dan selalu dijual di galeri.

“Ini salah satu bentuk ekonomi kreatif. Saya mencoba mengangkat karya-karya seni lukis dari pelukis daerah-daerah,” kata M Anis yang pernah terlibat di redaksional situs kepresidenan era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) periode pertama.

Harga yang ditawarkan pun cukup bervariasi menyesuaikan ukuran dan kemasannya. Lukisan-lukisan cat minyak yang dijual M Anis berkisar Rp 200 ribu hingga Rp 1 Juta. Di hari pertama jualan sejak Pk 12.00 – 17.00 Wib, tiga lukisan seharga masing-masing Rp 500 ribu terjual. Para pembelinya adalah warga yang kebetulan melintas di Jalan Yos Sudarso.

Aneka jenis lukisan yang dipajang di gerobak motor roda tiga milik M Anis ini mampu memberikan suasana berbeda di area jogging track tersebut.

“Lukisan-lukisan ini bisa memperindah rindangnya taman. Warga singgah sembari melihat lukisan sekaligus berteduh di taman yang pohonnya rindang ini,” jelasnya.

M Anis yang asli Nyamplungan ini pun berharap Pemerintah Kota Surabaya di masa mendatang mampu memberikan ruang bagi kesenian, utamanya seni lukis. Ia berharap untuk mengakomodasi karya seni dibuatkan semacam kampung seni yang permanen.

“Di Jogging track ini cukup bagus bila ada niat dan visi untuk membesarkan pelukis-pelukis di Surabaya. Di desain yang menyatu dengan alam, ini sebagai keseimbangan pembangunan kota dengan seni,” kata pelukis yang juga pernah mengelola situs kemenpora ini. (q cox)

Reply