Begini Ceramah Rizieq Shihab di Masjid Sunan Ampel Surabaya

SURABAYA (Suarapubliknews.net) – Meskipun sebelumnya mendapatkan penolakan dari beberapa elemen masyarakat di Kota Surabaya, nyatanya Muhammad Rizieq Shihab tetap hadir dan menjadi penceramah di acara Tabligh Akbar bertajuk, Merajut Ukhuwah, Menegakkan Syariah Dalam Bingkai NKRI di Masjid Sunan Ampel Surabaya.

Dalam tauziahnya, Imam besar Front Pembela Islam (FPI), Muhammad Rizieq Bin Shihab mengajak arek-arek Surabaya dan masyarakat Madura yang dikenal pemberani berangkat ke Jakarta untuk ikut menjaga Ibu Kota Negara Jakarta dari hal-hal buruk yang terjadi akibat Pilgub DKI Jakarta pada 19 April mendatang.

Alasannya, Jakarta merupakan Ibu Kota Negara sehingga seluruh warga Indonesia harus peduli, termasuk orang Surabaya.

“Arek-Arek Suroboyo siap berangkat ke Jakarta, demi orang-orang Islam, demi mengamankan negara, siap melawan, siap menghabisi mereka (pendukung penista agama). Angkat tangannya. Takbir, Takbir, Shollu Alannabi,” ajak Rizieq, Selasa (11/4/2017) malam.

Menurut Rizieq, pembentukan laskar-laskar baru dari berbagai daerah seperti para jawara baik dari Jawa Barat, Banten dan Jawa Timur khususnya dari Madura itu diperlukan untuk antisipasi karena pihaknya menemukan gejala jika calon gubernur muslim menang di Pilgub DKI Jakarta para pendukung penista agama akan mengamuk dan berusaha menghilangkan bukti-bukti kemenangan.

“Para konglomerat pendukung penista agama sudah mengeluarkan triliunan rupiah. Bahkan menyewa para preman untuk memenangkan si penista agama. Kalau tanggal 19 April, calon gubernur muslim menang, mereka akan mengamuk karena tidak mungkin mereka akan diam setelah mengeluarkan triliunan rupiah tapi calonnya kalah,” tegasnya.

Di tegaskan Habib Rizieq, pertempuran pada 19 April mendatang itu bukan pertempuran antara Anis dan Ahok. Tapi ini merupakan pertempuran antara yang haq dan yang bathil.

“Ini pertempuran antara pembela Islam dengan penista Islam. Dan ini merupakan pertempuran antara ulama istiqomah yang didukung oleh umat Islam dengan umaro yang dengan sengaja mendukung penista agama untuk menjadi pemimpin Jakarta yang dibekali konglomerat kafir,” bebernya.

Menurutnya, tragedi politik seperti ini belum pernah terjadi di negara Indonesia, bagaimana perangkat negara menjadi tim sukses calon kepala daerah yang juga penista agama.

“Innalillahi wainna ilahirajiun. Jadi besok itu bukan Ahok yang kami lawan tapi melawan seluruh perangkat negara yang memaksakan kehendak penista agama menjadi pemimpin di DKI Jakarta. Kami juga siap melawan kekuatan para konglomerat yang dikenal dengan sembilan naga yang begitu sombong dan angkuh,” tegas Rizieq.

Walaupun para konglomerat itu sanggup membeli oknum-oknum TNI, oknum-oknum polisi, bahkan membeli seluruh perangkat negara yang ada untuk memenangkan si kafir. Tapi bagi ulama tidak akan mundur sedikitpun, dan juga tak ada rasa takut. Apalagi hasil sosialisasi, Insya Allah calon gubernur kami akan menang 80 persen dalam Pilkada Jakarta.

“Calon gubernur muslim saat ini tidak bisa dikalahkan kecuali ada kecurangan, makanya kami akan siaga menjaga Jakarta pada tanggal 18 dan 19 April,” bebernya.

Diakui Rizieq, dirinya bukan politisi dan tidak ikut partai politik manapun, atau menjadi juru kampanye untuk calon manapun.

“Tapi bagi saya dan kawan-kawan di Jakarta pertempuran pada Tanggal 19 April adalah bukan pertempuran antara Anis dan Ahok, tapi ini merupakan pertempuran antara haq dan bathil,” tambahnya.

Ulama, kiai, habaib serta para santri, tegas Rizieq, tidak akan pernah turun ke jalan jika pemerintah menjalankan tugasnya dengan baik terhadap orang yang menistakan agama. Bahkan gara-gara ulama bersuara keras, pemerintah melalui aparat yang dimiliki mencoba mengkriminalisasi ulama dan kiai.

“Ingat pesan Allah dalam Al Qurán bahwa kalau umat Islam bisa bersatu pasti pertolongan Allah akan datang, makanya umat Islam harus bersatu,” jelasnya.

Pihaknya juga sudah berulangkali mengingatkan kepada pemerintah bahwa ada tiga perkara yang harus dilindungi yakni jangan biarkan Islam dihina, jangan beri kesempatan PKI untuk bangkit kembali dan jangan serahkan kekayaan negara dijual kepada Asing dan Aseng.

“Kalau pemerintah baik pasti ulama akan fokus mendidik umat dan tidak perlu demo. Tapi kalau pemerintah lalai maka jangan salahkan kalau umat Islam membuat gerakan revolusi untuk menurunkan pemimpin yang dholim,” pungkasnya. (q cox, U)

Reply