Berebut Jadi ‘Imam’ di Pilgub Jatim, Ini Keprihatinan Kiai Sepuh NU

SURABAYA (Suarapubliknews.net) – Majunya dua kader NU, Saifullah Yusuf dan Khofifah Indar Parawansah di Pilgub Jatim membuat Wakil Rois Am PBNU KH Miftahul Akhyar prihatin.

“Ini para kiai sepuh ada keprihatinan yang tinggi. Bahkan saya mau turun kesini bersama panjenengan sedoyo mengungkapkan rasa keprihatinan itu terutama dilingkungan NU belum pernah terjadi khususnya di Jatim,” kata KH Miftahul Achyar diacara Halalbihalal dan deklarasi dukungan Gus Ipul-Puti dari Keluarga Besar Nahdliyin, Penggerak Lingkungan dan Ekonomi di Convention Hall Grand City Surabaya, Sabtu (23/6/2018).

Rebutan kedudukan, lanjut KH Miftahul Achyar, royokan jabatan sampe sampe sing siji wes duwe kedudukan diculno perlu gelut karo dulure dewe (sampai sampai yang satu sudah punya kedudukan dilepas demi bertarung dengan saudaranya).

Menurut dia, Cagub nomor 2 Gus Ipul sudah disiapkan para kyai sejak 10 tahun lalu untuk menjaga kebatinan di Jatim.

“Gus Ipul 10 tahun lalu sudah dipersiapkan oleh para masyayikh (kyai) untuk menjaga suasana kebatinan dimiliki Jatim. Mestine liane rumongso ngertiyo, urong direstui lembaga resmi NU. Sing liyane urong izin, urong pamit, mbok ngertiyo. Ora usah ngejak gelut dukure dewe terus didelok wong akeh (Harusnya yang lain merasa mengerti, belum direstui lembaga resmi NU. Yang lain belum izin, belum pamit, cobalah mengerti. Tidak perlu mengajak bertengkar saudaranya sendiri lalu dilihat orang banyak),” tegasnya.

KH Miftahul Akhyar yang juga Pemimpin Ponpes Miftachussunah Surabaya ini mengungkapkan dihadapan 6 ribu peserta halalbihalal keluarga besar Nahdliyin, penggerak lingkungan dan ekonomi serta deklarasi, jika didalam NU tidak ada yang berebut jadi imam. Tetapi dalam Pilgub Jatim terjadi.

“Di NU model rebutan jadi imam tidak ada, justru mendorong, sampean saja. Istilah sesama bus kota tidak boleh saling mendahului. Lah kok ini malah ngejak gelut dulure dewe,” ungkap KH Miftahul Akhyar. (q cox)

Reply