Jumat, 10 November 2017 19:41

Darurat Kesehatan, Manajemen Bisnis UK Petra Gelar Seminar Cegah Thalassemia

Rate this item
(0 votes)

SURABAYA (Suarapubliknews.net) – Thalassemia adalah kelainan darah yang menurun secara genetik disebabkan oleh mutasi gen globin alpha dan gen globin beta. Tingkat prevalensi thalassemia di Indonesia adalah tergolong di 2 negara tertinggi di dunia bersama dengan Italia.

Pakar penanganan thalassemia Bing Rudyanto, dr., Sp.A., S.H., DFM mengatakan gikabarkan 6 sampai dengan 10 persen penduduk Indonesia membawa gen penyakit ini. Tercatat setiap tahunnya bertambah lebih dari 2000 laporan kasus thalassemia mayor.

“Apabila dikalkulasikan bahwa biaya perawatan per pasien thalassemia mayor mencapai 400 juta rupiah per tahun, maka terlihat jelas bahwa setiap tahun muncul beban kesehatan baru sebesar lebih dari 8 miliar rupiah,” katanya.

Dosen pengajar kedokteran di salah satu universitas swasta di Surabaya menambahkan pada penderita thalassemia sel darah merah luruh dalam waktu 50 hari, sedangkan dalam kondisi normal usianya bisa mencapai 120 hari.

“Karena kondisi ini, maka penderitanya sering mengalami kondisi kurang darah atau anemia. Cepatnya laju pengurangan sel darah merah menyebabkan limpa dan hati bekerja ekstra keras untuk mengimbangi memproduksi sel darah merah yang biasanya diproses oleh sum-sum tulang belakang,” lanjut Bing.

Dipaparkan Bing saat Seminar Cegah Thalassemia yang diadakan Program Studi Manajemen Bisnis UK Petra bekerjasama dengan organisasi pengabdian Rotary International, kerja limpa dan hati yang abnormal ini menyebabkan kedua organ ini membengkak.

Pada titik tertentu ketika bengkak ini sudah melebihi ambang batas ukurannya, tindakan penyelamatan satu-satunya adalah pemotongan organ tersebut. “Tindakan operasi ini, dan juga kebutuhan transfusi darah yang konstan adalah penyebab tingginya biaya yang dihadapi keluarga pengidap thalassemia,” paparnya.

Setelah mengenal lebih jauh tentang thalassemia, Bing memperdalam paparannya dengan penjelasan atas efek sosiologis yang juga dihadapi pengidap thalassemia dan keluarganya. Karena kurangnya kesadaran masyarakat atas pentingnya skrining thalassemia, maka kondisi ini seringkali diketahui setelah proses kelahiran yang juga setelah pernikahan.

Menurut Bing, skrining thalassemia sebelum menikah sangat penting. Belum adanya obat untuk kondisi ini dan besarnya biaya yang pasti akan ditanggung untuk perawatan anak dengan thalassemia adalah hal yang krusial untuk dipertimbangkan.

“Apabila hanya salah satu dari pasangan yang membawa gen (thalassemia minor) maka adalah baik karena dengan demikian gen pembawa thalassemia tidak diteruskan ke keturunannya,” tutupnya. (q cox, Dn)

Ayo share berita ini:

Submit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to Twitter
Read 31 times