Cegah Radikalisme dan Terorisme di Sidoarjo, FKPT Jatim Gelar Acara Rembug Apatatur

SIDOARJO (Suarapubliknews) – Acara “Rembug Apatatur ” yang digagas oleh FKPT (Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme) Jawa Timur, mengajak semua aparat desa dan kelurahan yang ada di wilayah Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto dan Pasuruan untuk bersama-sama melakukan pencegahan adanya bahaya faham radikalisme dan terorisme.

Kegiatan yang dikemas dalam ‘Rembuk Aparatur’ dengan tema ‘Saring Sebelum Sharing’ tersebut selain melibatkan aparatur desa dan kelurahan, juga melibatkan para Babinsa dan Babinkamtibmas, karena mereka sebagai ujung tombak di masyarakat.

Ketua FKPT Jatim Dr. Saubar Isman SH. MH mengatakan kalau kegiatan kami ini selalu memberikan informasi-informasi melalui berbagaimacam kegiatan, diantaranya melalui mimbar, melaui workshop, termasuk juga melalui seminar-seminar.

“Mereka diantaranya para pendidik agama Islam, juga terhadap perempuan dan anak. Oleh karena itu saya berharap kepada para peserta kegiatan ini bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat/warga yang ada di wilayahnya masing-masing,” harap Saubar Isman, ( Selasa (16/7/2019) kemarin.

Adapun tujuannya adalah agar semua element yang terlibat ini bisa berperan serta mencegah paham radikalisme yang berkembang di lingkungan masyarakat, khususnya di lingkungan mereka masing-masing.

“Mereka ini sebagai unjung tombak, jadi setelah mendapat pengetahuan ini bisa menyebarluaskan ke wilayah sekitarnya, termasuk kepada keluarganya. Jadi ikut serta mencegah meluasnya paham radikalisme dan terorismen,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, FKPT Jatim juga telah menghadirkan narasumber yang mumpuni di bidangnya, diantaranya adalah Letkol Setyo Pranowo sebagai Deputi Pencegahan Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT, Wahyu Kuncoro, ST M.Medkom Kabid Media Massa, Hukum dan Humas FKPT Jatim serta Willy Pramudio dari Praktisi Pers.

Setyo Pranowo mengatakan kepada para peserta harus tetap waspada dan berhati-hati terhadap paham radikalisme dan terorisme. Karena yang mereka serang itu bukan anak-anak, atau para pemuda lagi, tetapi kita dari aparat pun juga diserang oleh mereka.

“Bahkan di sekolah atau perguruan tinggi pun juga sudah ada. Makanya kita harus cegah dari hulunya, karena yang diserang adalah kita semua,” jelas Setyo Pranowo.

Lanjutnya, dalam memahami mereka yang sudah terkena ini agak sulit, sangat berbeda sekali dengan warga yang terkena narkoba. Kalau terkena narkoba mereka sudah terlihat dari fisiknya, tetapi kalau paham radikalisme dan terorisme ini fisiknya tidak terlihat.

“Makanya kita harus sangat berhati-hati terhadap berubahan perilaku di masyarakat, minimal perubahan perilaku di keluarga kita,’ tegasnya. (q cox, NH)

Reply