Enam Kabupaten Perbatasan Ungkap Potensi Bisnis

SURABAYA (Suarapubliknews.net) – Daerah tertinggal dan kawasan perbatasan menjadi salah satu tugas Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional.

Direktur Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu Kemendes PDTT, Maks Yoltwu mengatakan Kemendes PDTT mendorong enam Bupati di daerah perbatasan untuk memasarkan potensi wilayahnya kepada calon investor.

“Melalui exposur masing-masing bupati, dapat menggugah investor untuk mengembangkan daerah perbatasan sesuai potensinya masing-masing,” katanya seusai membuka Forum Bisnis dan Investasi Daerah Perbatasan 2017

Melalui diskusi panel forum bisnis, Bupati dari Nunukan, Kapuas Hulu, Belu, Rote Ndao, Morotai dan Maluku Tenggara Barat bergantian menyampaikan paparannya di Hotel Garden Palace.

Selain mengundang para calon investor, para peserta forum bisnis juga mendapatkan pembekalan-pembekalan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Kamar Dagang dan Industri (KADIN).

Maks menambahkan dalam forum ini BKPM menyampaikan kebijakan-kebijakan dalam rangka mendukung insentif investasi khusus di Kabupaten Daerah Perbatasan. Sedangkan KADIN menyampaikan perannya dalam meningkatkan investasi sektor riil di Kabupaten Daerah Perbatasan.

Dukungan juga datang dari PT Mitra Bumdes Nusantara untuk meningkatkan investasi ekonomi di desa dan kawasan pedesaan berbasi Bumdes. Forum Bisnis dilengkapi dengan seminar dan talkshow.

“Besok, Forum Bisnis akan dilanjutkan dengan talkshow tentang peningkatan nilai tambah komoditi di daerah perbatasan dengan mengundang tokoh pemberdayaan dan praktisi,” lanjutnya.

Forum ini merupakan kelanjutan dari Border and Invesment Summit 2015, dan Forum Bisnis dan Investasi Daerah Perbatasan 2016 (Border Business and Invesment Forum 2016) di Jakarta.

Ke enam daerah perbatasan ini adalah Kapuas Hulu, yang  memiliki potensi yang baik untuk investasi di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, dan pertambangan. Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang memiliki potensi menggiurkan untuk berbisnis dan mengembangkan usaha, terutama di sektor perikanan laut.

Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, selama ini sudah terkenal sebagai sentra usaha peternakan jenis Sapi Bali hingga produksi 56.493 ekor per tahun. Di kabupaten ini juga tersedia lahan budidaya jagung hingga 8.133 hektar dengan produksi jagung dua kali panen per tahun, dengan produksi hingga 20.205 ton per tahun.

Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, terkenal sebagai salah satu sentra industri garam dengan merek Cap Ikan Terbang. Kini sedang mencari investor untuk meningkatkan produksinya dari 2860 ton per tahun saat ini, di lahan sekitar 77 hektar.

Kabupaten Morotai, Maluku Utara, ditunjuk sebagai salah satu dari 10 destinasi wisata unggulan Indonesia. Selain sebagai salah satu dari kabupaten pusat pertumbuhan ekonomi perbatasan (PSKN), Morotai juga telah ditunjuk sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK). Untuk itu Morotai kini sedang mencari investor untuk mengembangkan pariwisatanya.

Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku, mencari investasi senilai sekitar Rp 3 triliun untuk mengembangkan perikanan tangkap, budidaya rumput laut, dan pariwisata di puluhan pulau kecil di sekitarnya. Juga sektor perkebunan kelapa, dan produksi kayu langka, Kayu Torem dan Kayu Linggau. (q cox, Dn)

Reply