Gandeng Kemendag, Kadin Indonesia Sosialisasi FTA

SURABAYA (Suarapubliknews.net) – Tren perdagangan Indonesia terus melonjak. Di 2017, surplus perdagangan Indonesia mencapai US$ 11,83 miliar. Pencapaian tersebut menurut Kepala Komite Tetap untuk Lembaga Multilateral dan Perjanjian Perdagangan Bebas Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Wahyuni Bahar harus menjadi pemacu bagi pegusaha untuk lebih meningkatkan kinerjanya.

Menurut Wahyuni, saat ini pesaing Indonesia sangat banyak dan lebih siap untuk menghadapi perdagangan bebas. Mereka lebih paham dan menerapkan standar yang ditentukan negara tujuan dalam semua produk yang dihasilkan. Sentara pengusaha Indonesia masih banyak yang belum mengetahui tentang berbagai ketentuan dan perjanjian yang telah dibuat pemerintah.

“Untuk itulah kami melakukan sosialisasi tentang perjanjian perdagangan bebas yang telah kita tandatangani. Ini adalah yang pertama, selanjutnya akan kami laksanakan juga di Medan, Makassar dan salah satu kota di Kalimantan, bisa di Balikpapan atau di Banjarmasin. Harapannya, pengusaha juga mau membantu dengan memberikan masukan sehingga kami bisa merumuskan dan memperjuangkan keinginan mereka,” ujar Wahyuni Bahar saat Sosialisasi perundingan perdagangan internasional (FTA) dengan tema “Upaya mewujudkan FTA yang bermanfaat dan bernilai tambah” di Graha Kadin Jatim, Surabaya, Jumat (26/1/2018).

Untuk Jatim, tambahnya, sebenarnya potensi yang dimiliki sangat besar. Tetapi karena pengusahanya kurang waspada, maka tren pendagangannya menjadi kian surut. Apalagi negara-negara yang menjadi pesaing cukup aktif dalam membuat perjanjian perdagangan dengan berbagai negara tujuan ekspor.

“Negara-negara yang bergabung dalam perjanjian ini nantinya bisa merugikan pengusaha Jatim karena biaya ekspor mereka akan menjadi lebih rendah. Barang mereka menjadi murah sehingga konsumen juga lebih memilih mereka,” tegasnya.

Lebih lanjut Wahyuni mengatakan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab turunnya tren perdagangan Jawa Timur, diantaranya adalah kualitas produk yang tidak mengalami perubahan atau perbaikan, sementara pesaing baru makin banyak dan sangat agresif.

“Dan mereka masuk pasar dengan membuat perjanjian perdagangan. Harga menjadi lebih murah dan makin kompetitif,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, perwakilan dari Kementerian Perdagangan Bidang Perundingan Bilateral, Agung Wicaksono berharap, melalui sosialisasi ini pihaknya bisa memacu kinerja ekspor Indonesia sehingga bisa berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional.

“Standar produk bisa diterapkan dan biaya produksi bisa ditekan. Karena dengan adanya golbal value change potensi ekspor menjadi kian besar. Tidak mungkin satu barang hanya dipenuhi dari satu sumber saja. Dan ini bisa kita tangkap” pungkasnya.(q cox)

Reply