Hadir di Sidoarjo, Adies Kadir Santuni Anak Penderita “Omphalocele”

SIDOARJO (Suarapubliknews.net) – Setelah mendapatkan informasi dari masyarakat melalui jejaring sosial, Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Dr. Ir. H. Adies Kadir, S.H, M.Hum, spontan berkunjung ke Dava (12 tahun) penderita “Omphalocele” (kelainan usus sejak lahir) yang berdomisili di kawasan Sukodono, Sidoarjo.

Kedatangan anggota Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR ini karena secara kebetulan bebarengan dengan agendanya menghadiri acara seminar soal pembarantasan korupsi di jaman NOW, yang lokasinya di Sidoajo.

Ditengah keluarga Dava (penderita Omphalocele), atas dasar kemanusiaan Adies Kadir menyampaikan santunan sebagai bentuk kepeduliannya kepada masyarakat yang tidak mampu.

“Ini urgent, untuk itu saya berharap pemerintah jangan lagi lalai menangani kasus-kasus seperti ini, makanya saya datang langsung usai mengikuti acara seminar,” ucapnya. Jumat (19/1/2018)

Setelah mendengar penjelasan dari ayah Dava, politisi muda Golkar ini menilai bahwa saat ini masyarakat mulai apriori terhadap keberadaan dokter, karena merasa takut untuk berobat, karena biayanya yang mahal, sehingga banyak yang beralih ke pengobatan alternatif.

“Ini tidak boleh lagi terjadi, saya akan sampaikan kasus ini melalui komisi IX dan VIII, agar tidak ada lagi Dava-dava yang lain di kemudian hari,” tandasnya.

Adies menerangkan jika dirinya juga mendapatkan kabar bahwa sebelumnya sudah ada wakil dari pemerintah setempat yang berkunjung ke tempat tinggal Dava, namun faktanya hanya menyampaikan janji.

“Sebenarnya kan ada anggaran sosial yang bisa digunakan, sehingga penderita tidak sampai kondisinya seperti sekarang ini,” tegasnya.

Untuk diketahui, sebagai driver online R4 (Grab Car) Ayah Dava harus menanggung beban setoran Rp 150 ribu/hari, BBM Rp 50 ribu dan biaya makan minum dan lain-lain sekira Rp 50 ribu.

Maka, dengan penghasilan bersih hanya Rp 50 ribu – Rp 100 ribu per hari, ayah Dava harus membiayai hidup istri dan ketiga anaknya. Ini pun masih harus menanggung kondisi anak pertamanya Dava (12 tahun) yang sangat butuh biaya untuk pengobatan.

Ayah Dava sempat bercerita, pernah suatu hari, belum lama ini, kedua anaknya berkeinginan makan nasi soto, dan si bungsu juga berkeinginan minum air gula. Namun naasnya, ditangan Pak Andi (ayah Dava) saat itu hanya ada uang Rp 10 ribu.

Alhasil, Pak Andi hanya bisa meluluskan permintaan anaknya dengan membeli 2 bungkus mie instant rasa soto, dan sisa uangnya untuk beli gula. (q cox)

Reply