Hadir di Surabaya, AHY: Pengumuman Kabinet Sebelum Coblosan Itu Tidak Elok

SURABAYA (Suarapubliknews) – Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengkritisi adanya pengumuman sejumlah tokoh yang kemungkinan bakal masuk jajaran Menteri jika terpilih menjadi presiden. Pasalnya, coblosan Pemilu Presiden (Pilpres) belum dimulai.

“Pengumuman kabinet itu tidak elok. Saat ini belum dilakukan pencoblosan pemilu. Sehingga, masih belum diketahui siapa yang akan menjadi pemimpin. Saya tidak ingin melihat elit bicara hal-hal yang bersifat pragmatis, bagi-bagi jatah menteri. Rakyat ingin dengar program,” Ucap AHY kepada sejumlah awak media usai acara temu kader partai Demokrat di Surabaya.

Bahkan AHY juga mengaku, jika dalam sejumlah kesempatan diminta oleh Prabowo untuk bisa dimasukkan dalam kabinet. Atas permintaan itu, dirinya mengaku berterimakasih karena sudah dianggap memiliki kapasitas untuk berkotribusi dalam membangun bangsa.

“Tapi saya ingin fokus pada kampanye dan memenangkan Partai Demokrat. Apalagi ini sudah mendekati coblosan,” cetus putra Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini.

Ditanya soal ketidakhadiran AHY saat acara pidato kebangsaan Prabowo Subianto di Dyandra Convention Center Surabaya, Jum’at (12/4/2019), AHY mengatakan jika tidak bisa hadir karena menjenguk ibundanya, Ani Yudhoyono di rumah sakit di Singapura.

“Menjenguk orang tua yang sedang sakit merupakan kewajiban moral seorang anak. Saya baru pulang dari Singapura tadi malam,” tuturnya.

Saat acara kampanye nasional Partai Demokrat, AHY menyerukan seluruh kader dan simpatisan Partai Demokrat untuk tidak golput. Masyarakat Indonesia harus menggunakan hak pilihnya dalam pesta demokrasi lima tahun sekali itu.

“Datang ke TPS. Gunakan hak pilih. Agar pemilu tahun ini bisa berlangsung sukses, jujur dan adil,” kata AHY dihadapan ribuan kader dan simpatisan Partai Demokrat di DBL Arena, Surabaya, Sabtu (13/4/2019).

Menurutnya, Pemilu 2019 harus berlangsung lancar dan sukses, karena menyangkut nasib bangsa ke depan. Pilihlah pemimpin yang santun dan mencintai rakyatnya. “Memilih pemimpin yang kelak bisa membuat bangsa Indonesia lebih maju,” ujarnya. (q cox)

Reply