HIPMI Geber Program Menangkan UMKM Jatim di Era Disrupsi Ekonomi

SURABAYA (Suarapubliknews.net) – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jatim terus menggeber sejumlah program yang mengajak para pengusaha muda yang kebanyakan adalah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk peka terhadap pendekatan teknologi dan digitalisasi dalam dunia usaha. Langkah ini dinilai penting untuk menghadapi era disrupsi ekonomi.

Ketua Umum HIPMI Jatim Giri Bayu Kusumah mengatakan saat ini dunia usaha bergerak super Cepat lewat digitalisasi di hampir seluruh sendi kehidupan. Fenomena disrupsi ini memunculkan peluang baru bagi banyak orang, tapi di sisi lain juga menghasilkan kenyataan pahit berupa limbungnya entitas usaha yang tak adaptif terhadap perubahan.

“Karena itu, UMKM harus sadar bahwa bisnis tak lagi sama seperti dulu, UMKM hams benar-benar berubah,” katanya di sela-sela pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) HIPMI Jatim Selasa (12/12/2017)

Giri merinci sejumlah program yang telah dijalankan HIPMI untuk membawa UMKM Jatim bisa eksis di era disrupsi ekonomi. Pertama, mengatasi masalah pendanaan. Untuk itu, HIPMI telah menjalin kerja sama resmi dengan salah satu bank swasta nasional sejak enam bulan lalu.

“Bisnis-bisnis zaman now yang mengandalkan ide dan kekayaan pikiran selama ini tidak cukup kuantitatifuntuk dihitung perbankan sebagai bisnis yang layak dibiayai. Pengusaha muda juga dinilai tidak bankable karena ketiadaan agunan atau lamanya berbisnis yang baru seumur jagung. HIPMI memfasilitasi itu lewat kelja sama dengan bank. Jadi HIPMI menjadi semacam ‘bapak angkat‘ yang menyatakan bahwa bisnis anak muda ini layak dibiayai,” paparnya.

Dalam program kerja sama dengan perbankan ini, sudah ada lebih dari 200 anak muda yang memanfaatkannya dengan plafon pembiayaan Rp 25 juta hingga Rp 500 juta.

Program kedua, mendorong pendekatan teknologi dalam bisnis UMKM, salah satunya dengan konsep penerapan teknologi tepat guna. HIPMI rutin menggelar workshop teknologi tepat guna dengan melibatkan para praktisi terbaik di bidangnya. Total telah digelar 12 kali workshop terkait itu, dan diikuti 91 UMKM.

“Mengapa pendekatan teknologi ini penting? Karena UMKM kita belum mempunyai tingkat efisiensi yang optimal. Kebanyakan dari UMKM belum mampu menciptakan skala ekonomi, antara lain karena problem teknologi,” jelas Giri.

Berdasarkan Tingkat Produktivitas Total (TPT), UMKM jauh tertinggal karena makin tak efisien. TPT adalah cara ukur kinerja usaha dengan menghitung nilai tambah per kesempatan kerja yang diciptakan. Pada usaha besar padat modal dan teknologi, TPT-nya mencapai 170 kali dari usaha kecil. Sedangkan usaha menengah mempunyai 3 kali TPT usaha kecil.

“Ini menunjukkan betapa UMKM hanya besar dari jumlah unit usaha, namun dalam skala bisnis, kalah jauh dibanding perusahaan padat modal dan teknologi,” lanjut Giri.

Giri menambahkan, momen Musda HIPMI Jatim ini sekaligus menjadi sarana untuk memperkuat komitmen guna memenangkan anak muda di tengah persaingan bisnis nasional.

“Hari ini kami menggelar musyawarah daerah. Dihadiri 38 perwakilan kabupaten/kota. Momen ini menjadi penguat komitmen HIPMI untuk terus berdiri bersama UMKM-UMKM agar semua potensi ekonomi Jatim bisa menang di tengah persaingan global,” pungkasnya. (q cox, Dn)

Reply