Kecewakan Pelanggan, Jajaran Direksi PDAM Surabaya Rawan Dicopot

Beberapa bulan terakhir PDAM Surya Sembada Surabaya banyak menuai hujatan, kecaman bahkan makian lantaran kualitas pelayanannya dinilai terburuk sepanjang perjalanannya sebagai pemegang kuasa (monopoli) air bersih. Betapa tidak, kini giliran ratusan warga di Kelurahan Gunungsari, Kecamatan Dukuh Pakis, Surabaya yang tidak bisa melakukan kegiatan mandi, cuci, dan kakus (MCK) lantaran aliran pipanya mampet alias mati total.

SURABAYA (SPNews) – Ketidaksiapan PDAM Surya Sembada Surabaya dalam menjalankan kewajibannya melayani masyarakat terus menjadi perbincangan warga kota Surabaya karena seringkali terjadi perbaikan yang berdampak kepada matinya suplay aliran air bersih ke ribuan pelanggan secara bergantian .

PDAM Surabaya terkesan kurang professional dalam mengatasi dampak yang ditimbulkan oleh persoalan teknis di instalasi pelayanan air bersih. Bagaimana tidak, karena soal pemeliharaan mesin pompa, pengolahan dan jaringan pipa yang terdistribusi ke seluruh pemukiman di wilayah kota Surabaya seharusnya sudah menjadi tugas pokok dan rutin yang harus dilakukan dengan tanpa mengganggu pelayanan.

Namun kenyataannya PDAM Surabaya masih terkesan kelabakan manakala terjadi masalah, dan matinya aliran air bersih selalu menjadi dampak sekaligus resiko yang harus ditanggung oleh pelanggan. Artinya, SDM di lingkungan PDAM Surabaya belum mampu mengatasi masalah perbaikan instalasi jaringan pipa maupun mesin pompa dan hanya drooping mobil tangki menjadi solusi andalan.

Seperti yang dialami oleh ratusan warga di Kelurahan Gunungsari, Kecamatan Dukuh Pakis, Surabaya terhitung sejak siang kemarin (2/4/2014, distribusi air di kawasan tersebut macet hingga saat ini (3/4/2014). Akibatnya, warga tidak bisa memenuhi kebutuhan untuk keperluan mandi, mencuci, dan kebutuan lainya.

”Ini parah sekali, masak satu hari lebih air tidak mengalir. Perusahaan daerah macam apa kalau seperti ini,” ujar Rininta salah satu warga RW I kelurahan setempat.

Menurutnya, layanan buruk PDAM tidak terjadi kali ini saja. Hampir setiap Sabtu dan Minggu air macet sejak pagi hingga siang hari.

”Padahal Sabtu dan Minggu sebagian besar warga berada di rumah,” sambungnya.

Rininta juga mengatakan, setiap hari aliran air ke rumah-rumah warga tidak maksimal, sehingga warga harus berjaga saat malam hari untuk menampung air untuk kebutuhan esok harinya.

”Ini Surabaya kok seperti di pengungsian saja,” tutur Emy, warga lainya yang saat ditemui sedang menimba air di sumur warga.

Warga berharap, PDAM memperbaiki layanannya lantaran air menjadi kebutuhan vital masyarakat. Sementara Wahono salah satu karyawan PDAM yang tinggal di kawasan Gunungsari mengaku tidak tahu menahu perihal macetnya air yang kerap terjadi di kawasan tersebut. ”Ndak tahu kenapa,” ujarnya singkat.

Menurut Riski staf bagian hukum pemkot Surabaya, bahwa Perda PDAM yang lama maupun dalam Raperda PDAM yang masih dalam pembahasan, telah memuat pasal tentang sangsi kepada pencopotan jabatan direksi jika ternyata dianggap tidak bisa memberikan pelayanan maksimal kepada pelanggan sebagai tugas pokoknya. (q cox)
Foto : Ilustrasi

Reply