Kolaborasi Musisi Prancis, Australia dan Indonesia Hadirkan Batavia Baroque Musique

SURABAYA (Suarapubliknews.net) – Siapa sangka ternyata musisi Jawa berpengaruh terhadap penyebaran musik di jaman penjajahan Belanda, khususnya di wilayah Asia lainnya.

Pemerhati Warisan Sejarah Jawa, David Irving mengatakan saat mengakhiri penjajahan Portugis, Belanda yang kala itu berkuasa sebisa mungkin membawa cara hidup dari negeri asal mereka. Salah satunya adalah music

“Dalam dokumen yang saya temukan orang Jawa di masa itu yang berpendidikan musik Eropa di Batavia (Jakarta) dijual sebagai budak ke wilayah Asia lainnya. Saat itu orang Indonesia, khususnya Jawa sangat cepat mempelajari tentang musik,” kata pengajar senior musikologi Universitas Melbourne.

Ingin menunjukkan seperti apa musik era barok yang dimainkan orang Hindia Belanda pada abad ke 17, kelompok ansambel Le Baroque Nomade, bersama Institut Prancis di Indonesia (IFI) mencoba memperdengarkannya lewat pagelaran World Premier Tour Batavian Baroque Musique.

Kelompok musik ensembel Baroque Nomade dibentuk oleh 4 musisi beraliran klasik, Jean-Christophe Frisch, Remi Cassaigne, Mathieu Dupouy dan Andreas Linos, yang bersepakat mengeksplor keterkaitan sejarah antara musik barok di Eropa dengan berbagai musik tradisional, India, China, Etiopia dan Turki.

Baroque Nomade sendiri sudah sekitar 20 tahun berkiprah, dan tetap konsisten hingga hari ini untuk memainkan komposisi-komposisi era barok, tetapi disempurnakan menjadi lebih baru dan kekinian.

Konser Batavian Baroque Musique diawali dengan perjumpaan antara Jean-Christophe Frisch dengan Avip Priatna konduktor Batavia Madrigal Singers, pada bulan Februari 2017 yang lalu. berkelanjutan karena keduanya membahas tentang musik barok di Asia tenggara.

“Untuk konser di Surabaya, kami akan berkolaborasi bersama 8 musisi dari String Orchestra of Surabaya (SOOS) Chamber Player. Dalam konser kerjasama budaya anatara musisi Prancis, dan Australia, serta Indonesaia yang akan membawakan komposisi-komposisi abad 17 beberapa diantaranya berbahasa Melayu,” kata Jean-Christophe Frisch.

Dalam konser tersebut, selain memainkan beberapa piece dari komposer terkenal seperti Johann Schop, Giovanni Gastoldi, dan Marco Uccellini, mereka juga menyelipkan lagu-lagu rohaniah dalam playlistnya. (q cox, Tama Dinie)

Reply