Maju ke DKI Jakarta, Kusnan: Saya Tak Ingin Nasib Risma Seperti Ahok

SURABAYA (Suarapubliknews.net) – Dorongan dan dukungan agar Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya maju ke Pilgub DKI Jakarta 2017 terus bergelora, terutama dari warga Kota Jakarta. Hal ini terbukti dengan munculnya sejumlah kelompok masyarakat dan relawan pendukung Risma.

Adapun kelompok masyarakat dan relawan pendukung Risma di Jakarta itu adalah Laskar Risma (Laris), Barisan Risma (Baris), Pasukan Risma (Paris), Aliansi Masyarakat untuk Risma (Amaris), Tanah Merah untuk Risma (Tameris), Gerakan Masyarakat untuk Risma (Gamis), Anak Rawabunga Cinta Risma (Artis). Terbaru adalah Jakarta Love Risma (Jaklovers) dibawa komando artis Neno Warisman.

Disejumlah media, Risma-sapaan akrab Tri Rismaharini menyampaikan pernyataan bahwa dirinya tidak pernah mempunyai keinginan menjadi seorang Gubernur, dimanapun termasuk di DKI Jakarta. Dan sikapnya ini juga telah disampaikan ke Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri.

Namun sebagai kader partai, langkah dan karir Risma saat ini sepertinya bakal tetap bergantung kepada kebijakan partai yang diikutinya yakni PDI Perjuangan. Karena salah satu kewajiban sebagai kader PDIP adalah siap menjadi petugas partai.

Artinya, apapun respon dan komentar yang disampaikan Risma terkait Pilgub DKI Jakarta bukanlah sikap dan keputusan yang final baginya, karena masih harus menunggu bahkan sangat bergantung kepada keputusan dan kebijakan DPP partainya.

Masyarakat Kota Surabaya seakan menjadi tameng satu-satunya bagi Risma untuk bisa lepas dari penugasan partai berikutnya yakni maju ke Pilgub DKI Jakarta. Sehingga Risma tetap meminta kepada semua pihak untuk bertanya kepada warga Kota Surabaya, apakah dia maju atau tidak. Benarkah?

Pasalnya, tak sedikit warga Kota Surabaya yang masih menginginkan kepemimpinan Risma diselesaikan hingga akhir massa tugasnya yakni sampai tahun 2021. Seperti yang disampaikan Kusnan ketua Paguyuban Arek Suroboyo ini.

“Kami bukan meragukan kemampuan Bu Risma untuk memimpin wilayah yang lebih besar, tetapi bagaimana dengan masyarakat Kota Surabaya selanjutnya, untuk itu harus berfikir seribu kali,” ucapnya. Kamis (21/7/2016)

Aktivis 1998 ini berpendapat jika wilayah Jakarta merupakan pusat pusaran kekuasaan, nuansa kepentingannya sangat kuat, dan masih lagi harus berhadapan dengan para pemimpin partai, Ormas dan LSM.

“Terkait slogan pokok’e ono lawane Ahok (Pokok ada lawannya Ahok), seng penting duduk Ahok (yang penting bukan Ahok), saya tidak bermaksud menuding jika pendukung Risma di Jakarta setengah hati, tetapi mereka juga harus mengkalkulasi soal kemungkinan kalah dan menangnya,” jelasnya.

Lanjut Kusnan, anggap saja bisa menang, tetap saja juga harus memikirkan soal proses perjalanan pemerintahannya, karena jika tidak maka nasib Risma bisa seperti kondisi dan posisi Ahok saat ini.

“Ahok harus melawan sendirian karena ditinggal partainya hanya karena berbeda kepentingan,” tambahnya.

Tidak hanya itu, Kusnan juga menyampaikan pertanyaan klasik yang selama ini juga menjadi pertanyaan beberapa pihak. “Kalau kalah, siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan, begitu juga sebaliknya,” pungkasnya. (q cox)

Reply