Jumat, 10 November 2017 22:54

Jika “Head to Head”, Khofifah Lebih Diuntungkan. Benarkah?

Rate this item
(0 votes)

SURABAYA (Suarapubliknews.net) - Rencana partai poros tengah memunculkan pasangan calon alternatif di Pilgub Jatim 2018, nampaknya menemui jalan terjal. Pasalnya, ada upaya dari pihak-pihak tertentu yang menginginkan kontestasi Pilgub Jatim hanya diikuti dua pasangan calon.

Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim, Anwar Sadad membenarkan bahwa upaya partai poros tengah ikut meramaikan Pilgub Jatim mendatang menemui kendala. Terlebih setelah poros Jatim Emas mulai memunculkan nama kandidat Cagub yang akan diusung di Pilgub Jatim yaitu Emil Elistianto Dardak Bupati Trenggalek.

"Setelah Emil bertemu dengan Ketum DPP PAN, Zulkifli Hasan. Kemarin ganti Khofifah yang menemui Zulkifli dengan harapan PAN ikut gerbong koalisi partai pengusung dirinya, sehingga poros tengah tak mungkin bisa mengusung calon karena tak memenuhi syarat KPU," ujar politisi asal Pasuruan saat dikonfirmasi Jumat (10/11/2017).

Terpisah, pengamat politik dari Universitas Brawijaya Malang, Faza Dora Nailufar menilai langkah Khofifah mendekati Zulkifli Hasan itu bagian dari strategi supaya bisa mendapatkan dukungan dari pemilih di luar NU. Terlebih walaupun suara PAN di Jatim tak begitu besar namun tergolong solid seperti PKS.

"Kalau Pilgub Jatim hanya diikuti dua pasangan calon yaitu Gus Ipul-Anas dan Khofifah, asalkan figur Cawagub Khofifah kuat, jelas akan menguntungkan Khofifah. Sebab jika sampai tiga pasangan calon, Khofifah cenderung dirugikan," jelas perempuan berjilbab ini.

Senada, pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura, Surkim Abdussalam mengatakan jika PAN berkepentingan untuk meraih quote tile effect pada pemilu tahun 2019, maka keputusan masuk dalam barisan partai koalisi pendukung KIP maka kemungkinan yang didapatkan untuk kepentingan partai khususnya Pileg dan Pilpres relatif sedikit atau kurang menguntungkan.

Sebaliknya, kata Surokim PAN berani mengusung poros sendiri, maka bargainingnya akan meningkat bahkan bisa jadi partai berlambang Matahari Terbit itu juga akan mendapat jatah cawagub.

"Kemungkinan itu lebih besar jika PAN berani membentuk poros baru bersama Gerindra dan PKS," beber Dekan FISIP UTM ini.

Diakui Surokim, kalau Pilgub Jatim hanya diikuti dua kontestan yaitu Gus Ipul dan Khofifah maka Khofifah jelas lebih diuntungkan dengan isu perubahan dan harapan baru. Namun sejauh ini kelemahan Wagub Jatim sudah bisa ditutupi oleh Abdullah Azwar Anas sebagai Cawagub yang dikenal kreatif sebagai kepala daerah berprestasi.

"Tapi kalau tiga pasangan calon yang maju di Pilgub, maka semua pasangan calon punya potensi tergerus suaranya. Peta dukungan akan semakin mencair dan angka swing vote serta undecided voters semakin tinggi. Kuncinya, tinggal bagaimana para calon bisa  mengamankan modal suara dan ekspan merebut suara liar itu," ungkap Surokim.

Ia menilai semakin banyak pasangan calon yang muncul, maka kontestasi Pilgub Jatim akan semakin baik karena akan mendorong munculnya pemilih-pemilih rasional dan mengurangi angka suara tradisional sehingga pemilu lokal akan semakin meningkat kualitasnya.

"Sesungguhnya kalau lebih dari 3 calon,  gak ada yang diuntungkan dan tetap saling mengerus suara sesuai keunggulan masing masing kandidat dan akan semakin kompetitif," bebernya.

Tiga pasangan calon yang muncul di Pilgub Jatim, tambah Surokim juga bisa mendorong kualitas demokrasi elektoral dan pendidikan demokrasi publik semakin baik. Disamping untuk alternatif agar demokrasi elektoral lokal lebih hidup dan bervariasi.

"Ini sekaligus sebagai indikator bahwa regenerasi dan stok kepemimpinan lokal Jatim berjalan karena muncul banyak nama yang bisa dipilih publik," imbuhnya

Surokim juga khawatir jika tidak ada poros baru, Pilgub Jatim tidak bergairah dan stagnan, kontestan sama seperti periode sebelumnya dan akan bikin pemilu tidak menarik. Akibatnya partisipasi publik bisa menurun karena animo masyarakat ke TPS rendah sehingga akan mengurangi legitimasi pemilukada itu sendiri dan sejatinya itu kerugian bagi demokrasi lokal.

"Munculnya tiga pasangan dan sekaligus poros alternatif akan mengairahkan demokrasi electoral, bisa menumbuhkan harapan harapan baru dan akan punya multiplier effects yang positif untuk keswadaayan politik publik lokal. Intinya semakin banyak calon akan membawa dampak positif dari pada calon terbatas itu-itu saja," dalihnya.

Di tempat terpisah, Dirut Surabaya Survey Center, Mochtar W Oetomo mengakui munculnya nama Emil Dardak di berbagai media akhir-akhir ini mampu menjadi magnet dalam peta politik Pilgub Jatim 2018. Apalagi ketika nama Bupati Trenggalek masuk kandidat kuat cawagub Khofifah Indar Parawansa dan Cagub poros tengah yaitu Gerindra, PAN, dan PKS, sehingga wajar kalau setiap gerakan Emil kini mendapat perhatian bahkan reaksi.

"Termasuk reaksi cepat KIP untuk bertemu Zulkifli Hasan, setelah sebelumnya Ketum DPP PAN bertemu Emil. Terlepas apakah Emil akan dipilih jadi Cawagub KIP atau tidak, tentu KIP berpandangan jika poros tengah sampai jadi terbentuk apalagi jadi ngusung Emil tentu akan membawa konsekuensi politik yang tidak sederhana,"  ungkap Mochtar.

Diantara konsekwensi yang bisa terjadi, kata Mochtar adalah pertama, dengan ada tiga cagub dan tiga poros maka energi yang akan dikeluarkan KIP tentu akan jauh lebih besar. Kedua, perlu kalkulasi matang lagi dan skema baru lagi kehadiran poros tengah ini akan menguntungkan atau merugikan KIP. Ketiga, sedikit banyak kalau sampai hadir poros ketiga ada irisan suara KIP pasti akan tergerus.

"Makanya dalam konteks yang demikian, mengurangi jumlah musuh adalah pilihan yang paling strategis. Karena sejak awal sepertinya energi dan skema pemenangan KIP memang hanya dipersiapkan untuk head to head dengan Gus Ipul," pungkasnya. (q cox, U)

Ayo share berita ini:

Submit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to Twitter
Read 86 times