Senin, 13 November 2017 20:17

Pengamat: Waspadai Oportunis Politik NU di Pilgub Jatim

Rate this item
(0 votes)

SURABAYA (Suarapubliknews.net) - Pilgub Jatim 2018 yang akan diikuti dua kader terbaik NU yakni Saifullah Yusuf dan Khofifah Indar Parawansa ditenggarai memicu tumbuh suburnya oportunis politik di kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU). Ironisnya lagi, tokoh-tokoh NU juga sudah menjadi hulubalang (utusan) politik sehingga kekuasaan dijadikan sebagai sumber kehidupan.

Pernyataan tersebut disampaikan pengamat hukum dan politik dari Universitas Airlangga Surabaya yang juga kader NU tulen, Suparto Wijoyo, saat dikonfirmasi Senin (13/11) kemarin.

"Syahwat politik warga NU dan tokoh-tokoh NU sudah tak terkendalikan di Pilgub Jatim. Sehingga secara psikologis melahirkan oportunis politik yang bisa membahayakan NU ke depan karena kesulitan menciptakan kader berintegritas politik yang baik," jelas Suparto Wijoyo   

Ia juga prihatin saat bersinggungan dengan kader-kader NU di berbagai daerah di Jatim justru mereka tak malu menunjukkan sikap oportunis politik di Pilgub Jatim.

"Sekarang ini kemenangan besar NU karena siapapun yang jadi Gubernur Jatim ke depan adalah orang NU. Makanya ketika sudah dekat kekuasaan mereka siap memberi dalil kebangsaan untuk memperkuat," ungkap Suparto.

Sejak era reformasi, lanjut Suparto NU lebih fasih bicara politik daripada bicara di luar koridor politik. Akibatnya, warga nahdliyin di lapisan bawah merasa jenuh dengan  sikap politik tokoh-tokoh NU sehingga mereka memilih fokus di ranah keagamaan dengan meramut mushola dan masjid sebagai pusat syiar dan dakwah supaya NU selamat.

"NU sekarang seolah-olah menjadi bagian organ negara sehingga boleh menghakimi pihak lain yang seolah-olah berseberangan dengan pemerintah. Padahal kalau NU masuk wilayah politik, selalu kalah di politik," kata akademisi asli Lamongan ini.

Melibatkan NU dalam Pilkada 2018 adalah kekeliruan yang besar dan seolah tidak mau belajar pada pengalaman Pilgub Jatim sebelumnya. Di kubu Saifullah Yusuf, lanjut Suparto ada KH Hasan Mutawakkil Alallah yang secara fulgar mendukung secara pribadi. Sebaliknya di pihak Khofifah ada Gus Sholah dan tim 9 yang beranggotakan para kiai dan tokoh Muslimat NU.

"Karena tokoh-tokoh NU di Jatim sulit disatukan, saya sarankan sebaiknya tokoh NU yang disegani dan bisa diterima kedua kubu supaya turun ke Jatim. Bisa saja KH Makruf Amin, Gus Mus atau Habib Luthfi untuk mendamaikan dan menyelamatkan NU Jatim dari perpecahan," harap Suparto Wijoyo.

Terpisah, pengamat komunikasi politik dari Universitas Trunjoyo Madura (UTM), Mochtar W Oetomo menambahkan istilah yang tepat bukan NU butuh tokoh penengah karena tentu akan susah membayangkan siapa  yang mampu dan layak menjadi penengah para kiai yang selama ini diposisikan dalam posisi mulia.

Ia memiliki beberapa pertimbangan yang pantas untuk dipikirkn bersama. Pertama, jika penengah itu adalah pejabat atau politisi, presiden misalnya tentu akan semakin menempatkan posisi kiai pada posisi yang tidak terhormat.

"Kiai harusnya ada di posisi yang lebih terhormat. Mestinya kiai yang nenggerakkan dan  menengahi politisi bukan sebaliknya," tegas Mochtar.

Kedua, kalau penengah itu sama-sama kiai, maka dalam konteks Pilgub Jatim yang sudah dalam situasi turbulensi politik ini tentu akan melahirkan pertanyaan.

"Siapa kiai yang masih netral itu? siapa kiai yang belum berpihak? kalaupun ada netral apakah kalibernya bisa diterima oleh kiai-kiai yang tengah ada pada posisi berseberangan," jelas pria berkacamata ini.

Ketiga, kalau kiai penengah itu diambilkan dari luar Jatim, misalnya Gus Mus (KH Mustofa Bisri) atau Mbah Mun (KH Maimun Zubair), apakah beliau-beliau mau jika urusan itu menyangkut politik praktis dan ada di luar wilayah propinsinya. Apalagi antara para kiai itu biasanya selalu menjaga adab.

"Saya kira tidak mungkin sekelas Gus Mus atau Mbah Mun kalau tidak diminta masuk atau disowani akan ikut cawe-cawe Jatim," dalih Mochtar.

Menurutnya yang mampu dan layak menengahi dan memberi masukan pada para kiai secara adabiah ya hanya para punjer yang acapkali kedudukannya telah diakui sebagai salah satu auliya atau paku bumi.

Pertanyaannya siapakah beliau, mestinya para kiai lah yang lebih mafhum sekaligus memiliki kebijaksanaan kultural dan spiritual untuk sowan dan minta petunjuk pada para punjer itu demi kemaslahatan umat

"Saat ini yang diperlukan bukan hanya kebijaksanaan kultural dan spiritual para kiai tapi juga para politisi untuk tidak menyeret-nyeret persoalan agama dengan segala macam atributnya dalam lingkaran praktik pollitik pilgub Jatim," pungkas Mochtar W Oetomo. (q cox, U)   

Ayo share berita ini:

Submit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to Twitter
Read 55 times