Resmikan Teaching Industry, ITS Serius Garap Motor Listrik

SURABAYA (Suarapubliknews.net) – Resmi dilaunching pada 2016, motor listriknya, Gesits (Garansindo Electric Scooter ITS) memasuki tahap komersialisasi. Untuk itu Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mendirikan sebuah teaching industry pertama yang berfokus pada pengembangan industri perakitan sepeda motor listrik di Indonesia.

Direktur PUI-SKO ITS, Dr Muhammad Nur Yuniarto ST mengatakan dalam teaching industry tersebut, ada delapan station proses manufaktur yang dimiliki meliputi station rangka (chasis), steering system, drive train, aksesoris, dua station pemasangan body, waiting, tes fungsi dan performa.

Di dalam teaching industry ITS ini berhasil menghasilkan sebuah motor listrik hanya dengan waktu tunggu selama 5 menit di setiap station dan keseluruhan proses hingga jadi memakan selama 45 menit lewat konsep modular assembly.

“Konsep modular assembly ini sangat sesuai dalam mendukung proses pendidikan karena konfigurasinya dapat diubah sesuai kebutuhan. Selain itu, hal ini juga didukung dengan seluruh fasilitas di teaching industry yang didesain sendiri sesuai kebutuhan,” tambah dosen Teknik Mesin ITS ini.

Pria berkacamata tersebut menjelaskan, konsep modular assembly ini juga mendukung proses pengembangan varian baru dari Gesits yang dapat diujicobakan terlebih dahulu di teaching industry sebelum dilakukan produksi masal maupun bagi pihak lain yang bergerak di industri motor listrik.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) RI Mohamad Nasir dalam sambutannya mengatakan teaching industry yang didanai Kemenristekdikti ini dapat menjadi pelecut bagi peneliti perguruan tinggi untuk merealisasikan riset yang mereka miliki.

“Riset yang hanya sebatas publikasi dan tidak bisa diserap industri bukanlah inovasi. Inovasi harus mampu dihilirisasi dan komersialisasi,” katanya.

Melalui teaching industry yang dinaungi Pusat Unggulan IPTEK Sistem dan Kontrol Otomotif (PUI SKO) ITS, Nasir berharap ITS berhasil menciptakan motor listrik dengan harga kompetitif dan kualitas terbaik.

“Harapannya, kehadiran motor listrik dapat menggeser kebutuhan motor di Indonesia selama ini, terlebih seluruh desainnya berasal dari anak negeri,” tandas mantan Rektor Universitas Diponegoro (Undip) ini mengapresiasi.

Rektor ITS Prof Joni Hermana MSc ES PhD, memaparkan bahwa teaching industry adalah bentuk keseimbangan dari peran perguruan tinggi dalam mengembangkan dan mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal agar proses produksi masal dapat berjalan dengan baik.

“Selain itu, melalui program pelatihan teaching industry ini diharapkan mahasiswa memiliki bayangan terkait bagaimana sebenarnya industri otomatif berlangsung,” paparnya.

Sementara itu di hari yang sama mengembangkan jejaring kerjasamanya dengan berbagai pihak dalam pengembangan teknologi. Kali ini, ITS menjalin kerjasama dengan PT PLN (Persero) yang ditandai melalui penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) tentang pendidikan, penelitian, dan pengembangan teknologi ketenagalistrikan.

Direktur Human Capital Management PLN, Muhamad Ali mengatakan MOU ini merupakan tindak lanjut pasca kunjungan rektor bersama pihak PT PLN ke Shanghai Jiao Tong University (SJTU), China. “Penandatanganan nota kesepahaman ini merupakan kerjasama kongkret untuk ke depannya yang lebih baik dengan ITS,” katanya.

Sebagai langkah awal, Ali menyebutkan tiga bentuk kerjasama yang akan dijalin dengan ITS. Di antaranya adalah penggunaan fasilitas yang ada di Corporate University milik PLN yang dibuka lebar agar dapat digunakan oleh ITS guna mengembangkan penelitiannya. Kemudian, PLN pun membuka kesempatan bagi mahasiswa ITS yang berkeinginan untuk magang di PLN. (q cox, Dn)

Reply