Reuni Spega Angkatan’73, Hadirkan Tiga Guru Sepuh

Perhelatan reuni alumni angkatan 1973 di halaman SMPN 3 (Spega) di Jl Praban 3 Surabaya, Sabtu (6/7) pagi, berjalan penuh kekeluargaan. Selain dihadiri 30 orang alumni yang sudah berpisah lama dan guru-guru SMPN 3 sekarang, acara ini juga dihadiri 3 orang guru yang kini usianya mendekati 80 tahun yang masih sehat.  

SURABAYA (SPNews) – Tentu saja kehadiran 3 tamu istimewa yang sudah sepuh seperti Drs Soenardi (Kepala Sekolah), Hj IG Ayu Raka Riris (guru bahasa Indonesia) dan Supardjan (guru Pendidikan Moral Pancasila), menyegarkan kembali ingatan alumni yang sudah 40 tahun meninggalkan Spega. Setidaknya yang hadir mendapatkan resep awet muda dan sehat di usia senja. Yakni hidup itu harus disiplin dan iklhas dalam menjalankan apa saja.

Sony Soedarsono, ketua panitia penyelenggara, dengan gaya Suroboyoan benar-benar berhasil membawa teman-teman lamanya untuk mengingat kembali 40 tahun silam ketika masih jadi murid, nakal bahkan sembunyi saat jam pelajaran. Sampai bagaimana suka duka saat perjalanan pulang sekolahpun diungkap habis.

Ia juga menegaskan, reuni ini disamping sebagai ajang silahturahim menyatakukan kembali teman yang lama berpisah, diharapkan ke depan dapat mewujudkan terbentuknya paguyuban. “Manfaat paguyuban ini adalah menjaga komunikasi antar teman, juga dapat ikut memikirkan dan membantu kebutuhan almamater SMPN 3,” harap Sony yang diamini para alumnus.

Sementara itu Abdul Rahman yang sudah lama menjadi warga DKI Jakarta, bahwa 40 tahun reuni Spega ’73 ini adalah menyambung silahturahim dan mempererat 3P (Pertemuan, Persatuan dan Persaudaraan). “Kita patut bersyukur bisa hadir dan bertemu di sini kembali. Semoga reuni akan terus berlanjut dengan lebih banyak lagi yang hadir. Tidak gampang lho mengumpulkan balung pisah. Apalagi ini sudah 40 tahun berpisah,” katanya kepada wartawan.

Tampaknya pertemuan yang berlangsung mulai pukul 10.00 sampai pukul 16.00, belum membuat alumnus Spega puas melepas kangen. Karena itu malamnya mereka yang datang dari berbagai daerah itu berkumpul lagi di pusat kuliner D’Kampoeng Sutos. Sambil menikmati makanan dan jajanan tradisional, mereka dihibur keroncong. Lagu lama-lama pun mengalir hingga malam kian larut. (q cox, Pi)

Reply