Siswa SD Gelar Aksi Keprihatinan di KBS

Meninggalnya Michael, seekor singa jantan yang menjadi koleksi Kebun Binatang Surabaya (KBS) beberapa waktu lalu menggugah keprihatinan berbagai pihak, tidak kecuali para murid Sekolah Dasar (SD).

SURABAYA (SPNews) – Sebagai wujud keprihatinan atas kematian Michael itu, duapuluh murid SD Muhamadiyah IV Pucang Surabaya, menggelar aksi demo di depan KBS, Selasa (21/1). Dengan membawa spanduk yang bertuliskan KBS Bukan Kuburan Binatang Surabaya, para siswa dan siswi SD ini juga meneriakkan yel-yel kecaman dan meminta seluruh pihak ikut mendukung upaya penyelamatan satwa di KBS.

Edi Susanto, Wakil Kepala Sekolah SD Muhammadiyah IV Pucang Surabaya mengatakan, rasa keprihatinan atas meninggalnya Michael itulah yang membuat beberapa perwakilan siswa dan siswi SD Muhammadiyah IV Pucang, mendatangi KBS.

“Dengan meninggalnya Michael beberapa waktu lalu, menambah daftar panjang satwa koleksi KBS Surabaya yang meregang nyawa dan kematiannya tidak pernah terungkap. Pihak manajemen KBS sendiri seolah-olah tidak peduli dan sampai kematian Michael ini, tidak ada upaya dari para pengurus KBS, untuk melakukan penataan dan pemeliharaan yang layak terhadap seluruh satwa di KBS, “ ujar Edi.

Tindakan para pengunjung, lanjut Edy, yang juga tidak mempunyai kepedulian dalam menjaga kebersihan kandang satwa yang ada binatangnya, menjadi salah satu factor yang membuat kehidupan satwa koleksi KBS menjadi tidak sehat.

“Banyak dijumpai, para pengunjung KBS dengan sengaja membuang sampah ke kandang satwa. Selain itu, banyak pula kita jumpai, pengunjung memberikan makanan kepada satwa di KBS, padahal makanan yang diberikan itu, dipertanyakan kelayakan dan kebersihannya, “ ungkap Edi.

Meski banyak pengunjung yang melanggar ketentuan yang berlaku di KBS, sambung Edi, tidak ada tindakan nyata dari para pengurus atau petugas KBS yang sedang bertugas kala itu, untuk memberikan peringatan kepada para pengunjung itu.

Jika hal ini terus dibiarkan, Edi meyakini, kedepannya akan ada lagi kasus meninggalnya satwa koleksi KBS. Dan bukan tidak mustahil, cepat atau lambat, KBS akan kehilangan seluruh koleksinya. Hal itu belum lagi beredarnya rumors yang menyatakan jika banyak satwa koleksi KBS yang sengaja dijual kepada pihak tertentu.

“Kami meminta kepada Pemerintah Kota Surabaya untuk bersikap tegas dan tidak lambat dalam mengambil tindakan penyelamatan bagi kelangsungan hidup para satwa koleksi KBS. Ingat, KBS ini adalah salah satu icon yang dimiliki kota Surabaya. Kepada para pengurus dan manajemen KBS yang sekarang, harus bisa mengembalikan manajemen KBS yang sehat dan bagus sehingga terciptanya rasa aman dan nyaman bagi para pengunjung begitu juga dengan binatang koleksinya, “ urai Edi.

Siswa siswi SD Muhammadiyah IV Pucang Surabaya ini pun menuntut kepada aparat penegak hukum untuk terus mengusut penyebab kematian Michael di KBS. TIndakan Walikota Surabaya Tri Rismaharini dalam melaporkan permasalahan yang terjadi ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), juga mendapat dukungan dari seluruh siswa dan para guru SD Muhammadiyah IV Pucang Surabaya. Para siswa dan guru pun menghimbau kepada para pengurus dan para pihak yang selama ini bertikai tiada henti, untuk segera menghentikan pertikaian itu dan mulai memikirkan nasib satwa koleksi KBS yang masih tersisa saat ini.

Selain mendapat demo dari para siswa dan siswi SD, Laboratorium Patologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, juga mengirimkan hasil pemeriksaan terhadap beberapa organ Michael yang dikirim pihak KBS.

Namun sayang, FKH Unair enggan membeberkan hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan secara mikroskopik tersebut. Alasannya adalah, kode etik kedokteran yang harus mereka junjung tinggi karena FKH Unair sendiri tidak dilibatkan secara langsung dalam investigasi dan otopsi setelah Michael meninggal.

Humas FKH Unair, Dr. Hani Plumeriastuti, drH, M.Kes mengatakan, setelah Michael meninggal, tim dokter KBS kemudian mengirimkan beberapa organ Michael ke FKH Unair untuk diteliti. Organ yang dikirim itu: Hati, Paru-Paru, Ginjal dan Limpa.

“Namun sayang, ketika empat organ Michael itu diterima para dokter FKH Unair, sudah dalam keadaan diformalin. Hal inilah yang sedikit menyulitkan tim dokter FKH Unair yang melakukan pemeriksaan secara mikroskopik terhadap organ Michael tersebut, “ ujar Hani.

Meski demikian, Hani mengakui adanya sedikit perubahan bentuk terhadap organ-organ yang dikirimkan pihak KBS tersebut. Namun, enam orang tim dokter patologi dibawah pimpinan Dr. Thomas Valentino, yang melakukan pemeriksaan secara mikroskopik tersebut belum bisa menyimpulkan apa penyebab kematian Michael yang sebenarnya.(q cox, Elang)

Reply