Tepis Isu Hoax Dengan Kreatif Ala Mahasiswa DKV UK Petra

SURABAYA (Suarapubliknews.net) – Dua tim mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra (UK Petra) menorehkan prestasi di Ajang Insan Kreatif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (Ajisaka UGM).

Keduanya meraih penghargaan Best Radio dan Best Television dalam kategori SADEWA (Sayembara Dewa Pariwara). Mereka harus melalui babak penyisihan dengan mengumpulkan proposal dan file rekaman iklan. Dari total 98 tim, terpilih 5 tim yang melaju ke babak final untuk masing-masing kategori.

Mahasiswa Prodi DKV UK Petra Juan Richard dan Reyno Putradewa Santosa, yang berhasil menyabet gelar Best Radio untuk karyanya yang diberi judul “Naik Mobil Harus Pake Helm”. Dalam karyanya yang berdurasi 30 detik itu mengajak para pendengar untuk lebih berpikir kritis dalam menerima sebuah informasi.

“Kami terinspirasi dari kasus “Sarah Chen” yang marak terjadi beberapa waktu yang lalu. Ini membuktikan bahwa hoax mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk menyebarkan kebencian dan mempengaruhi orang. Sebab ketika hoax tersebar secara massal maka kebanyakan orang akan mempercayainya,” papar Juan.

Insipirasi ini dikaitkan dengan kisah dari teman mereka pernah ditilang polisi karena tidak menggunakan helm padahal mengendarai mobil sport (kap terbuka). “Bagi orang awam, jika naik mobil ya tidak perlu memakai helm padahal sebenarnya dalam peraturan berkendara jika menggunakan mobil dengan kap terbuka maka harus menggunakan helm,” rinci Reyno.

Sementara itu Yonathan Christie Yusanto dan Efatha Arauna menceritakan bahwa ketika ada orang yang menyebarkan informasi yang tidak benar adanya (hoax) maka kondisi masyarakat menjadi kacau.

Iklan ini bercerita mengenai seorang laki-laki yang duduk diwarung dan sedang membaca berita hoax. Saat akan membagikan hoax ini, tiba-tiba para pengunjung warung yang lain di warung menjadi tidak bisa dikendalikan. Sebaliknya saat mematikan ponsel keadaan sekitar warung kembali tenang.

Dalam video ini Yonathan dan Efatha ingin mengingatkan sekaligus menyentil tentang kebiasaan buruk para pengguna internet dengan cara menggambarkan tentang kekacauan yang terjadi akibat penyebaran berita palsu tersebut. Secara langsung maupun tidak langsung jika satu berita palsu disebarkan maka akan membuat kekacauan di lingkungan sekitarnya.

“Harapan saya dalam video tvc ini masyarakat menjadi mengerti tentang penyebaran berita melalui sosial media haruslah di pikir dan ditelaah lebih lagi. Karena realitanya kekacauan sering terjadi karena penyebaran berita yang ngawur dan belum tentu benar yang memojokkan satu golongan sehingga memicu pertikaian. Bijaklah dalam membaca, menyebarkan suatu berita,” tutup Efatha. (q cox, Dn)

Reply