Tiga Seniman Duel di DPRD Kota Surabaya

Tiga seniman kontemporer kota Surabaya antara lain Taufik Monyong , Arifin Londo dan Dukan Wahyudi bertemu dalam ajang pameran hasil karyanya di Loby Gedung DPRD kota Surabaya. Dengan mengusung tema keprihatinan terhadap pencemaran lingkungan oleh limbah besi, ketiga seniman ini memakai material aneka spare part bekas kendaraan bermotor untuk hasil karyanya.

SURABAYA (SPNews) – Tak bisa terbantahkan jika sudah ditangan seorang seniman, apapun itu termasuk barang bekas akan menjadi karya seni yang tak ternilai harganya. Hal ini dibuktikan oleh tiga seniman kota Surabaya yakni Taufik Monyong, Arifin Londo, dan Dukan Wahyudi yang saat ini sedang menggelar hasil karya seninya di Loby Gedung DPRD kota Surabaya.

Seiring dengan pesatnya perkembangan alat transportasi, kini kendaraan bermotor seperti sepeda motor, kereta api/listrik dan mobil telah menjadi kebutuhan pokok setiap manusia untuk menjalankan aktifitasnya. Sayangnya prilaku ini tidak dibarengi dengan turut berfikir soal dampak yang ditimbulkan, mulai dari gas buang hingga kebutuhan penggantian spare part kendaraan bermotor yang diapakainya.

Berbekal kepiawaiannya dalam berkarya lantaran berlatar belakang pendidikan seni, ketiga seniman ini berhasil merangkai berbagai limbah spare part kendaraan bermotor menjadi karya seni yang mengandung pesan moral terhadap lingkungan.

“majunya sarana transportasi di jaman ini membuat hasil produk kendaraan bermotor berbagai jenis terus bermunculan, dan jumlahnya semakin tak terkendali, dampaknya tentu kepada kesehatan udara, namun yang tidak kalah pentingnya adalah dampak menumpuknya barang bekas berupa sparepartnya yang beresiko adanya radiasi,” terang Arifin Londo alumni STKW Surabaya tahun 2009 ini.

Rasa kepedulian Arifin sebagai seniman akhirnya dituangkan dalam beberapa karya seni dengan material dasar berbagai spare part bekas yang didapatkanya dari beberapa pengepul barang bekas.

“atas dasar pemikiran untuk turut berpartisipasi aktif dalam penanggulangan limbah besi berupa spare part kendaraan bermotor maka saya berusaha membuat karya seni yang memanfaatkan limbah tersebut untuk sebuah karya seni sehingga kembali menjadi barang-barang yang mempunyai nilai,” terang Arifin seniman Surabaya yang baru saja berhasil menjual karyanya senilai 3 juta rupiah.

Sementara seniman Dukan Wahyudi juga berhasil membuat karya seni dengan material limbah, hanya saja materialnya tidak terbatas spare part kendaraan bermotor karena beberap karyanya adalah berupa kamera dan kaleng bekas.

“basic saya memang seni lukis, dan awalnya saya mencoba menggabungkan antara seni lukis dengan tempelan beberapa barang bekas, namun karena stock barang bekas dirumah semakin numpuk, saya mencoba lebih berkonsentrasi untuk membuat karya seni dari barang bekas seperti kamera dan kaleng bekas, agar limbah besi itu bisa termanfaatkan kembali,” terang Dukan alumni sekolah menengah seni rupa (SMSR) Surabaya tahun 2012 yang pernah menjual hasil karyanya hingga mencapai nilai 8 juta rupiah ini.

Demikian juga dengan Taufik Monyong, hasil karya yang dipamerkan saat ini memang terkesan lebih kental dengan pemanfaatan berbagai barang bekas berupa spare part kendaraan bermotor yang dijadikan sebuah karya seni patung manusia dengan pesan abstraknya. (q cox)

Reply