Wartawan Surabaya Labrak Tri Rismaharini

Dipicu oleh sikap Tri Rismaharini Walikota Surabaya yang konon memarahi Ilham Wancoko wartawan Jawa Pos di depan publik terkait tulisan pemberian fasilitas mobil dinas M Mahmud ketua DPRD Surabaya, seluruh wartawan kota Surabaya spontan berkumpul dan melabrak ke depan Balai Kota Surabaya untuk menuntut permintaan maaf atas tindakannya yang di nilai tidak beretika.

SURABAYA (SPNews) – Aksi demonstrasi wartawan Surabaya kepada Walikota Surabaya Tri Rismaharini atas sikapnya yang dinilai melecehkan profesi jurnalis akhirnya digelar, Jumat (19/10/2013). Bertempat di halaman Balaikota Surabaya, puluhan wartawan dari berbagai media cetak, online dan TV baik lokal maupun nasional ikut dalan aksi demonstrasi.

Gerakan solidaritas wartawan ini menuntut agar Walikota Surabaya Tri Rismaharini meminta maaf kepada para jurnalis atas sikapnya yang menghardik salah satu wartawan harian di gedung DPRD beberapa waktu lalu.

Abidin, jurnalis dari harian Surabaya Pagi, dalam orasinya mengatakan, bahwa sikap walikota yang menghardik wartawan di tempat umum atas pemberitaan yang dimuat tersebut adalah tindakan pelecehan, pasalnya menurut Abidin, ada tahapan yang bisa dilakukan ketika ingin merespon pemberitaan suatu media.

“Kami kecewa, seharusnya sebagai kepala daerah Ibu Risma memberikan contoh yang benar kepada masyarakat. Jika keberatan dengan suatu berita harusnya Bu Risma melalui tahapan yang sudah ada sesuai dengan kode etik jurnalistik,” protesnya.

Namun sayang, aksi para wartawan tersebut tidak ditemui secara langsung oleh Risma. Dengan alasan tugas, para wartawan hanya ditemui oleh Sekretaris Daerah Hendro Gunawan.

Kepada wartawan, Hendro mengatakan, bahwa dirinya mewakili instansi Pemerintah Kota Surabaya meminta maaf atas peristiwa tersebut dan akan tetap menjalin kerjasama sebagai mitra dengan media.

“Kita ingin membina hubungan yang baik dengan media. Prinsipnya, marilah kita bekerjasama dengan baik,” beber Hendro.

Para wartawan tidak puas dengan jawaban yang dilontarkan oleh Hendro, dan meminta Risma berbicara langsung kepada wartawan, meskipun hanya melalui telfon. Namun Hendro tidak mengabulkan permintaan wartawan tersebut dengan beralasan tidak memiliki pulsa.

Akhirnya wartawan memilih meninggalkan Balaikota dan tetap menuntut Risma memberikan permintaan maafnya secara terbuka.

“Kami tetap akan menuntut Risma meminta maaf atas sikapnya kepada salah satu teman kami. Dan kami akan membuat aksi lanjutan, jika Walikota tidak memenuhi tuntutan kami,” teriak salah satu orator sembari meninggalkan Balai Kota.(q cox)

Reply