Whisnu Sakti Buana dan Eri Cahyadi Tampati Posisi Puncak di Survei IPOL Indonesia

SURABAYA (Suarapubliknews) – Jelang pilkada serentak se-Jawa Timur, nama Whisnu Sakti Buana Wawali Kota dan Eri Cahyadi Kepala Bappeko Surabaya menempati urutan puncak di hasil survei Lembaga dalam hal elektabilitas indikatif besutan konsultan politik IPOL Indonesia, Kamis (14/11/2019).

Menurut hasil penelitian IPOL, nama Wakil Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana yang juga Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim ini menjadi yang paling mendapat ekspose masyarakat.

Keterangan ini disampaikan Petrus Haryanto CEO Lembaga Riset IT Research Politic Consultant (iPOL) Indonesia, bahwa elektabilitas indikatif didasarkan oleh beberapa indikator.

Di antaranya, popularitas di media massa, kemunculan di berbagai platform sosial media (Facebook, Instagram, Twitter), serta keberadaan tim calon di lapangan (random work survei).

“Kami melihat tren pembicaraan tantang calon di masyarakat. Mulai dari pembicaraan di udara hingga pembicaraan di lapangan. Ketika kami menggunakan kata kunci isu Pilwali (pemilihan walikota), figur ini yang paling banyak disebut,” kata Petrus pada acara temu jurnalis di Surabaya, Kamis (14/11/2019).

Menariknya, di bawah nama Whisnu justru ada nama Eri Cahyadi, pria yang saat ini menjadi Kepala Badan Pengembangan dan Perencanaan (Bappeko) Kota Surabaya. Eri mendapatkan 877 ekspose masyarakat di Surabaya.

Sedangkan di bawah dua figur tersebut ada beberapa figur potensial lain yakni Armuji (Anggota DPRD Jatim dari dapil Surabaya) dengan 488 ekspose, KH Zahrul Azhar (politisi Golkar sekaligus Sekjen Jaringan Kiai Santri Nasional) dengan 331 ekposes, hingga Samuel Teguh Santoso (Ketua DPD Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Kota Surabaya) dengan 148 ekspose.

“Sekalipun demikian, jumlah ekspose tersebut masih jauh dari tingkat keterpilihan. Idealnya, untuk bisa terpilih harus mencapai 50 ribu hingga 100 ribu ekpose,” katanya.

Di saat yang sama, Vanila Kraska Direktur Komunikasi dan Riset iPOL Indonesia menerangkan, bahwa ekspose terhadap calon belum tentu berisi pemberitaan positif.

“Kami belum mengkaji lebih dalam terkait isu yang dibawa, apakah positif atau negatif. Kedepan akan kami sampaikan,” kata Vanila Kraska,

Menurut dia, apabila tren pemberitaan cenderung negatif, maka justru akan mendegradasi potensi keterpilihan.

“Untuk saat ini, semua peluang memang masih terbuka. Kalau semakin banyak positifnya bisa melambung, begitu pun sebaliknya,” tandasnya.

Petrus kembali menambahkan, para calon masih memiliki tugas besar dalam meningkatkan potensi menang. Di antaranya dengan semakin intensif bersosialisasi baik di media maupun dengan turun langsung ke masyarakat.

“Kalau mau menang, tantangannya memang harus mau ngecat langit (sosialisasi di media) sekaligus mengecat tanah (menyapa masyarakat). Ini berlaku untuk semua calon, apalagi bagi new-comer,” pungkas Petrus. (q cox)

Reply