SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus mengukuhkan perannya di kancah global dengan memimpin forum ASEAN University Network/Southeast Asia Engineering Education Development Network (AUN/SEED-Net) Steering Committee Meeting 2026, pekan lalu. Digelar di Bangkok, Thailand, acara ini menandai posisi ITS sebagai salah satu perguruan tinggi terdepan di ASEAN.
Wakil Rektor IV ITS Prof Agus Muhamad Hatta menyebutkan bahwa AUN/SEED-Net telah menjadi wujud kolaborasi berkelanjutan. Jejaring yang melibatkan 26 universitas di ASEAN dan 18 universitas di Jepang ini telah berjalan sejak 2001 dengan dukungan penuh Japan International Cooperation Agency (JICA). “Keberlanjutan jejaring ini mencerminkan investasi jangka panjang berbasis sumber daya manusia,” katanya.
Hatta menuturkan bahwa dalam gelaran tersebut, delegasi membahas capaian program, pengelolaan ASEAN Engineering Journal, penguatan basis data alumni, hingga kinerja lima konsorsium riset. Selain itu, lima konsorsium riset dipresentasikan sebagai ujung tombak kolaborasi riset teknik ASEAN – Jepang. Sebagai pemimpin forum, Hatta memastikan seluruh pembahasan dibahas secara sistematis.
Rangkaian agenda kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan dokumen Cooperative Framework of Project. Agenda ini menandai dimulainya fase baru kolaborasi antara perguruan tinggi di kawasan ASEAN dan mitra dari Jepang. Melalui penandatanganan dokumen ini, ITS menegaskan komitmennya untuk berperan aktif sebagai Member Institution. “Hal ini berlaku selama periode implementasi kerangka kerja sama tersebut,” jelas Guru Besar Teknik Fisika ITS ini.
Sejalan dengan penguatan kolaborasi internasional, Hatta mendorong Direktorat Kemitraan Global (DKG) ITS untuk berperan aktif dalam mempromosikan program mobilitas mahasiswa. Upaya ini difokuskan pada peningkatan partisipasi mahasiswa ITS dalam skema pertukaran dan magang di bawah jejaring AUN/SEED-Net.
Ke depan, ITS berkomitmen mendorong kolaborasi riset dengan kepakaran mitra global. Strategi ini akan diwujudkan melalui mekanisme match making peneliti guna mencocokkan topik riset unggulan ITS dengan para peneliti dari perguruan tinggi anggota. “Strategi ini dilakukan agar peluang hibah dapat diraih secara maksimal,” ujarnya.
Melalui keikutsertaan aktif dalam forum ini, ITS memperkuat posisinya sebagai leading research university di tingkat regional. Tak hanya itu, ITS turut berkontribusi dalam mempercepat tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 mengenai Pendidikan Berkualitas dan poin 17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (q cox, tama dini)












