SURABAYA (Suarapubliknews) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berkolaborasi dengan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Surabaya, Dharma Wanita Persatuan (DWP), serta KORPRI menggelar kegiatan Vaksinasi HPV di Gedung Wanita Candra Kencana, Jalan Kalibokor Selatan No. 2 Surabaya, Kamis (12/2/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan kualitas kesehatan perempuan sekaligus mencegah risiko kanker serviks.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Nanik Sukristina, mewakili Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyampaikan bahwa kegiatan vaksinasi HPV bukan sekadar agenda kesehatan, melainkan bagian dari komitmen besar dalam menjaga kualitas hidup perempuan Indonesia, khususnya di Kota Pahlawan. Menurutnya, perempuan memegang peran sentral dalam keluarga dan masyarakat, sehingga ketika perempuan sehat, keluarga akan kuat, dan pada akhirnya kota serta bangsa juga semakin kokoh.
“Alhamdulillah, antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Berdasarkan informasi dari panitia, jumlah peserta yang mendaftar mencapai sekitar 500 orang. Ini menjadi gambaran bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan, khususnya dalam pencegahan kanker, terus meningkat,” ujar Nanik.
Ia menjelaskan, kanker serviks hingga kini masih menjadi salah satu ancaman serius bagi perempuan. Data global menunjukkan bahwa kanker serviks menempati peringkat keempat sebagai jenis kanker yang paling sering menyerang perempuan di dunia. Di Indonesia, penyakit ini berada di urutan kedua kanker perempuan paling umum, dengan rata-rata sekitar 36 ribu kasus baru setiap tahun dan sekitar 21 ribu kematian. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hampir 70 persen kasus baru ditemukan pada stadium lanjut.
“Padahal pencegahan jauh lebih mudah, lebih murah, dan jauh lebih menyelamatkan. Berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa kanker serviks dapat dicegah secara signifikan melalui vaksinasi HPV dan deteksi dini. Ini berarti kita punya peluang besar untuk melindungi generasi sekarang dan yang akan datang,” tegasnya.
Nanik juga menyampaikan apresiasi dari Wali Kota Eri, kepada Balai Besar POM di Surabaya yang telah bersinergi dengan Pemkot Surabaya, DWP, dan KORPRI dalam menyelenggarakan Gerakan Sejuta Vaksin HPV bagi ASN dan masyarakat dengan tema “Perempuan Sehat, Perempuan Berdaya.”
“Selain itu, Pemkot Surabaya selama ini juga terus mengintensifkan upaya pencegahan kanker serviks melalui sosialisasi dan skrining deteksi dini secara rutin di seluruh kecamatan. Deteksi dini dilakukan bagi perempuan usia 30 hingga 69 tahun dengan metode self sampling dan pemeriksaan HPV DNA, yang kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan lanjutan jika ditemukan hasil positif,” terangnya.
Tak hanya itu, imunisasi HPV juga telah diintegrasikan ke dalam program rutin Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Melalui program ini, vaksinasi HPV diberikan kepada siswi kelas 5 SD dan kelas 9 SMP atau sederajat, sebagai upaya perlindungan sejak dini terhadap penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.
“Alhamdulillah, hasilnya mulai terlihat. Jumlah kasus kanker serviks di Surabaya menurun signifikan, dari 413 kasus pada tahun 2023 menjadi 201 kasus pada tahun 2024. Ini menjadi tanda bahwa langkah pencegahan yang kita lakukan bersama mulai membuahkan hasil,” ungkap dia.
Sementara itu, Kepala Balai Besar POM di Surabaya, Yudi Noviandi mengatakan bahwa vaksinasi HPV yang digelar hari ini merupakan bentuk komitmen KORPRI bersama Balai Besar POM dalam menginisiasi Gerakan Sejuta Vaksin HPV bagi ASN dan masyarakat. Ia menyebutkan, pada pelaksanaan tahap pertama di Surabaya, jumlah peserta terdaftar yang telah melakukan pendaftaran dan pembayaran mencapai 424 orang.
“Ini adalah kabar yang sangat baik, karena melalui vaksinasi HPV, para peserta, khususnya perempuan, memperoleh perlindungan dari potensi risiko kanker serviks. Bagi kami di Balai Besar POM, selain menjalankan tugas pengawasan obat dan makanan, kami juga berkomitmen untuk berkontribusi dalam upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan masyarakat,” ujar Yudi.
Menurutnya, vaksinasi HPV bukan sekadar intervensi medis, melainkan investasi masa depan. Dengan melindungi perempuan dari kanker serviks, maka akan terbentuk perempuan yang sehat dan berdaya, sebagai pilar penting dalam mewujudkan keluarga yang kuat dan bangsa yang tangguh. Yudi juga mengungkapkan bahwa tingginya minat masyarakat membuat pendaftaran harus ditutup lebih awal karena keterbatasan kapasitas penyelenggaraan.
“Bukan karena minim peminat, justru sebaliknya, jumlah peminat jauh melebihi kuota. Untuk pelaksanaan perdana di Surabaya, sekitar 500 peserta kami nilai sebagai kapasitas paling optimal,” jelasnya.
Yudi turut menyampaikan terima kasih kepada seluruh tenaga kesehatan yang terlibat dan berharap seluruh rangkaian vaksinasi berjalan lancar tanpa kejadian ikutan pasca imunisasi. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Wali Kota Eri atas dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut.
“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat luas bagi masyarakat dan menjadi inspirasi bagi daerah lain. Meski masih terdapat keterbatasan, semoga ke depan kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan jangkauan yang lebih luas,” pungkasnya. (q cox)












