SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Fenomena terbuangnya bahan pangan dalam jumlah besar sebelum sampai ke konsumen menjadi perhatian kalangan akademisi. Program Studi Teknologi Pangan Universitas Kristen (UK) Petra mengangkat isu ini melalui seminar bertajuk “From Farm to Fork: How Germany Builds a Sustainable Food Supply Chain”.
Masalah food loss atau kehilangan pangan dinilai sebagai tantangan serius dalam sistem rantai pasok makanan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Food loss terjadi ketika bahan pangan rusak atau terbuang selama proses distribusi, mulai dari petani hingga pedagang, sebelum sampai ke konsumen.
Narasumber seminar, Prof. Dr. rer. pol. Michael Dircksen, M.Sc. dari Münster School of Business, Jerman, menjelaskan bahwa pengelolaan rantai pangan membutuhkan pendekatan sistematis untuk meminimalkan pemborosan.
“Food Loss Management refers to the strategic planning, management, and control of the food value network to minimize the loss of food mass intended for human consumption occurring before the end-consumer stage,” jelasnya.
Menurutnya, pengelolaan tersebut mencakup integrasi efisiensi logistik, teknologi seperti pengendalian suhu, serta sistem manajemen yang mampu menjaga kualitas dan keamanan produk selama proses distribusi.
Indonesia menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan negara maju seperti Jerman. Faktor geografis sebagai negara kepulauan, ketimpangan infrastruktur, serta kompleksitas sistem distribusi menjadi penyebab tingginya risiko kehilangan pangan.
“Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi tantangan geografis yang memicu ketimpangan infrastruktur antar wilayah, penanganan bahan pangan yang belum seragam, serta struktur pasar yang kompleks, yang memperbesar peluang terjadinya food loss,” ungkapnya.
Data UNEP Food Waste Index Report 2024 menunjukkan tingkat sampah makanan di Indonesia mencapai lebih dari dua kali lipat dibandingkan Jerman, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah sampah makanan rumah tangga tertinggi di Asia Tenggara.
Ketua Program Studi Teknologi Pangan UK Petra, Dr. Renny Indrawati, menekankan pentingnya pemahaman menyeluruh terhadap rantai distribusi pangan, bukan hanya fokus pada produksi dan konsumsi.
“Kualitas makanan tak hanya ditentukan oleh bahan atau cara memasak, tapi juga oleh cara penyimpanan, pengangkutan, dan distribusinya. Kami berharap pemahaman ini dapat membantu menciptakan sistem pangan yang lebih efisien,” ujarnya.
Melalui diskusi akademik ini, UK Petra mendorong peningkatan kesadaran tentang pentingnya manajemen rantai pasok pangan yang berkelanjutan, terutama dalam menghadapi tantangan distribusi di negara dengan kondisi geografis kompleks seperti Indonesia. (q cox, tama dini)












