NasionalPeristiwa

Dari Limbah Menjadi Makna: Dosen Adi Buana Ubah Sampah Plastik Jadi Karya Seni Humanis

99
×

Dari Limbah Menjadi Makna: Dosen Adi Buana Ubah Sampah Plastik Jadi Karya Seni Humanis

Sebarkan artikel ini

BANDUNG (Suarapubliknews) ~ Di tengah meningkatnya persoalan sampah plastik yang mengancam lingkungan, seorang seniman asal Surabaya menghadirkan perspektif baru: limbah bukan akhir dari sebuah siklus, melainkan awal dari kreativitas. Melalui pameran seni bertajuk Transformasion, limbah plastik diolah menjadi karya seni lukis yang tidak hanya estetis, tetapi juga sarat pesan kemanusiaan dan kesadaran lingkungan.

Seniman tersebut, Ika Ismurdiyahwati, dosen Seni Rupa Universitas Adi Buana Surabaya, memanfaatkan berbagai jenis sampah plastik seperti bungkus makanan, botol, dan kantong plastik sebagai medium utama dalam karya-karyanya. Ia melihat sampah bukan sekadar sisa konsumsi, tetapi juga cerminan gaya hidup masyarakat modern yang perlu dikritisi melalui pendekatan kreatif.

Pameran tunggal yang digelar di Galeri SOS (Sanggar Olah Seni), Babakan Siliwangi, Bandung, pada 19–22 Februari 2026 ini mengusung konsep transformasi—yakni perubahan dari sesuatu yang dianggap tidak bernilai menjadi karya yang bermakna.

Melalui eksplorasi visual dan bahasa rupa yang ekspresif, material limbah diubah menjadi komposisi artistik yang menghadirkan kesadaran baru tentang hubungan manusia dan lingkungannya.

Menurut Ika, persoalan sampah yang semakin menggunung di berbagai kota besar tidak hanya menjadi masalah ekologis, tetapi juga refleksi pola pikir pragmatis masyarakat. “Dengan mengolah limbah menjadi karya seni, ia berupaya mengubah cara pandang publik—dari melihat sampah sebagai sesuatu yang menjijikkan, menjadi sumber inspirasi dan solusi kreatif,” katanya.

Pendekatan ini juga memiliki dimensi ekologis yang kuat. Sampah plastik dikenal membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai—kantong plastik dapat bertahan hingga 20 tahun, sementara botol plastik bisa mencapai sekitar 450 tahun. Kondisi ini menjadikan limbah plastik sebagai salah satu ancaman serius bagi keberlanjutan lingkungan.

Melalui sentuhan artistik, Ika menghadirkan karya yang tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga menyampaikan pesan tentang tanggung jawab ekologis. Karyanya menjadi bentuk dialog antara seni, lingkungan, dan kesadaran publik, sekaligus membuka peluang baru bahwa limbah dapat memiliki nilai estetika dan bahkan nilai ekonomi.

Lebih dari sekadar pameran seni, Transformasion menjadi simbol gerakan kreatif yang menggabungkan seni, kepedulian lingkungan, dan humanitas. Pameran ini diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk melihat potensi di balik limbah dan mendorong upaya pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

Melalui karya-karya tersebut, pesan yang ingin disampaikan menjadi jelas: di tangan kreativitas dan kepedulian, sampah tidak lagi sekadar sisa—melainkan medium perubahan, refleksi, dan harapan bagi masa depan yang lebih berkelanjutan. (q cox, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *