MALANG (Suarapubliknews) ~ Rektor Universitas PGRI Adi Buana (UAB) Surabaya, Dr. Untung Lasiyono, S.E., M.Si., menegaskan pentingnya penguatan karakter dan nilai kebangsaan dalam pendidikan tinggi saat memimpin Upacara Penutupan Pendidikan Dasar (Diksar) ke-78 dan Kursus Kader Pelaksana (Suskalak) ke-41 Resimen Mahasiswa (Menwa) Mahasurya Jawa Timur Tahun 2026.
Upacara yang berlangsung di Dodikjur Rindam V/Brawijaya, Malang, tersebut diikuti kader Menwa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur.
Dalam amanatnya, Dr. Untung menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki mandat tidak hanya mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk sumber daya manusia yang berintegritas dan memiliki tanggung jawab kebangsaan. “Pendidikan dan pelatihan ini harus dimaknai sebagai proses pembentukan karakter dan kepemimpinan, bukan sekadar latihan fisik,” ujarnya di hadapan para peserta.
Ia menekankan bahwa Menwa merupakan bagian dari ekosistem pendidikan tinggi dalam pembinaan nilai bela negara, sekaligus wadah pembentukan kepemimpinan yang berlandaskan Pancasila.
Pada kesempatan tersebut, Rektor Adi Buana juga menyinggung arah kebijakan pendidikan tinggi saat ini, yakni konsep Kampus Berdampak yang menekankan kontribusi nyata mahasiswa bagi masyarakat, dunia usaha, serta pembangunan daerah.
Dalam konteks tersebut, Menwa diharapkan menjadi teladan integritas dan aktif dalam kegiatan kemanusiaan, penanggulangan bencana, serta pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari kontribusi menuju visi Indonesia Emas 2045.
Dr. Untung turut menyampaikan apresiasi kepada Komandan Rindam V/Brawijaya beserta jajaran atas dukungan dan fasilitas selama proses pelatihan, serta kepada Komandan Resimen Mahasiswa Mahasurya Jawa Timur atas kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai Inspektur Upacara. “Saya merasa sangat terhormat dipercaya menjadi Inspektur Upacara pada penutupan Diksar dan Suskalak tahun 2026 ini,” ungkapnya.
Ia juga mendorong agar proses pembinaan Menwa terus mengedepankan pendekatan edukatif dan humanis agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Penutupan Diksar ke-78 dan Suskalak ke-41 ini menjadi fase penting dalam mencetak generasi muda yang adaptif, kritis, serta berintegritas. Kehadiran pimpinan perguruan tinggi dalam kegiatan tersebut dinilai menjadi simbol sinergi antara dunia akademik dan pembinaan kedisiplinan dalam menyiapkan pemimpin masa depan. (q cox, tama dini)












