SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Setelah merayakan satu dekade eksistensinya tahun lalu, Basha Market kembali hadir dengan skala lebih besar melalui edisi 2025 yang mengusung tema “Labyrinth”. Bertempat di Next Gen Multipurpose Hall, Ciputra World Surabaya, pameran kreatif ini menghadirkan pengalaman multi-sensori lewat empat instalasi imersif bernuansa emas, simbol dari harta karun tersembunyi dalam diri setiap individu.
Co-Founder Basha, Devina Sugono mengatakan tahun ini, Basha berkolaborasi dengan Of Sorts dan Sciencewerk untuk menghadirkan Labyrinth sebagai perjalanan reflektif atas memori, persepsi, dan nilai.
Beberapa instalasi yang menjadi sorotan antara lain Labyrinth – The Entrance to Memory, UBS Golden Egg, Zojirushi Golden Zen Garden, serta Gilded Tides Immersive Room. “Konsep ini mengajak pengunjung untuk berhenti sejenak dari cepatnya pergerakan dunia, agar bisa melihat lebih dalam, bukan hanya terpukau pada permukaan realita,” jelasnya.
Basha Market 2025 menghadirkan 170 tenant, jumlah terbesar sepanjang penyelenggaraannya. Tenant tersebut didominasi oleh sektor fashion, namun juga mencakup F&B dan industri kreatif lain dari berbagai kota di Indonesia, mulai dari Banyuwangi, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, hingga Bali dan Medan.
Menurut Co-Founder Basha, Christie Erin, kolaborasi menjadi kekuatan utama tahun ini. Basha menghadirkan tiga Intellectual Property (IP) lokal: Dream with Nimbus (Paulus Hyu), Gwen the Corgi (Eric Noah), dan Robokite (Raivan Yogiaman) yang dipasangkan dengan sejumlah brand lokal seperti The Overtee, Tiny Soles, Antidot, Zojirushi, Sava Shoes, Popluca, Peculiar, Sleepy Sheep, dan lainnya.
“Selama ini IP-IP ini dikenal di komunitas mainan atau ilustrator. Melalui Basha, kami ingin IP lokal juga bisa menembus pop culture dan memberi nilai komersial lebih luas lewat kolaborasi dengan brand,” ungkapnya.
Paulus Hyu, kreator Nimbus, menambahkan bahwa kolaborasi ini menjadi cara untuk memperluas jangkauan karya lokal. “IP bukan hanya sekadar koleksi komunitas, tapi bisa jadi bagian dari budaya populer. Basha memberi wadah itu,” ujarnya.
Selain menghadirkan tenant dan instalasi, Basha Market juga menekankan aspek storytelling dari setiap brand. Melalui program Basha Haul, sejumlah Key Opinion Leader (KOL) mereview produk-produk tenant sejak sebelum acara berlangsung.
Sementara itu, program baru Basha UGC Corner menghadirkan host profesional yang mewawancarai brand owner secara langsung. Konten ini disiarkan live selama acara, menampilkan cerita di balik produk dan nilai yang diusung brand. “Basha itu bukan kerja linear, melainkan circle. Ada brand, kreator, konsumen, hingga profesi lain yang saling mendukung. Semua terhubung dalam satu ekosistem kreatif,” tambah Devina.
Di tengah tantangan ekonomi, Basha Market tetap optimistis bisa menggerakkan roda industri kreatif lokal. Tahun lalu, acara ini mencatat transaksi hingga Rp48 miliar selama tiga hari penyelenggaraan dan menarik 60.000–80.000 pengunjung.
“Basha bukan soal hedonisme, tapi bagaimana belanja dan kolaborasi ini bisa memutar roda ekonomi. Mulai dari brand, pekerja kreatif, fotografer, hingga venue event ikut terdampak positif,” ujar Erin.
Lebih jauh, Erin menekankan bahwa konsumen saat ini semakin kritis dan sadar nilai. “Tantangan brand lokal bukan lagi sekadar membuat produk bagus, tapi juga bagaimana menceritakan proses dan value yang ada di baliknya. Gen Z dan milenial lebih memilih produk yang mewakili dirinya,” jelasnya.
Sejak pertama digelar, Basha dikenal dengan kurasi tenant yang selektif dan konsisten mendukung brand lokal. Salah satunya adalah Itaharel, brand sepatu lokal yang telah ikut sejak 11 tahun lalu dan kini menembus pasar ekspor hingga Jepang.
“Dari awal kami membangun Basha saat brand lokal belum banyak dikenal, sampai sekarang menjadi pilihan utama masyarakat. Harapan kami, Basha bisa terus membesar agar semakin banyak industri kreatif lokal yang terwadahi,” tutupnya. (q cox, tama dini)