Peristiwa

Film Anak ‘Pelangi di Mars’ Ramaikan Lebaran 2026, Usung Visi Astronot Indonesia di Masa Depan

228
×

Film Anak ‘Pelangi di Mars’ Ramaikan Lebaran 2026, Usung Visi Astronot Indonesia di Masa Depan

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Antusiasme penonton Lebaran terhadap film keluarga Pelangi di Mars disambut Mahakarya Pictures melalui rangkaian roadshow di sejumlah kota di Pulau Jawa, yang telah digelar pada 22 Maret 2026.

Kegiatan ini menghadirkan para cast dan kru untuk menyapa langsung penonton di bioskop, salah satunya di Surabaya di CGV BG Junction. Kehadiran para pemeran dan kreator memberikan pengalaman berbeda bagi penonton, khususnya anak-anak yang menjadi target utama film ini.

Dalam rangkaian tersebut, hadir Messi Gusti sebagai pemeran Pelangi, Bimoky sebagai pengisi suara robot Batik, Vanya Rivani sebagai voice dan body actor Kimchi, serta produser Dendi Reynando dan sutradara Upie Guava.

Suasana nobar terasa hidup dengan respons anak-anak yang antusias setelah menyaksikan film. Karakter robot seperti Kimchi, Batik, dan Sulil menjadi favorit, menghadirkan tawa sekaligus rasa kagum.

Bimoky yang mengisi suara karakter Batik turut menyampaikan pesan kepada penonton anak-anak. “Seperti Batik yang selalu menjaga Pelangi, semoga teman-teman juga selalu setia kawan dan menjaga sahabat-sahabat kalian,” ujarnya.

Interaksi langsung ini menjadi bagian penting dalam membangun kedekatan antara film dan penontonnya, sekaligus memperkuat pesan persahabatan yang diangkat dalam cerita.

Sutradara Upie Guava menegaskan bahwa film ini lahir dari keinginan menghadirkan tontonan anak yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membangun mimpi. “Kami merasa Indonesia masih kurang film anak yang menginspirasi. Kami ingin anak-anak punya mimpi, ingin jadi astronot, saintis, dan menjelajah dunia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, genre science fiction dipilih sebagai bentuk dorongan untuk membangun visi masa depan. Film ini mengambil latar tahun 2100, saat bumi mengalami krisis lingkungan dan manusia melakukan ekspedisi ke Mars.

Tokoh Pelangi diceritakan memimpin misi penting untuk mencari solusi bagi bumi, dengan dukungan robot dari berbagai latar belakang. “Kalau negara lain bisa punya cerita heroik mereka, kenapa Indonesia tidak? Kami ingin anak-anak percaya bahwa Indonesia juga bisa,” tambahnya.

Film ini juga menghadirkan pendekatan produksi yang berbeda dengan penggunaan teknologi Extended Reality (XR), serta melibatkan voice actor dan body actor secara menyeluruh.

Messi Gusti mengungkapkan tantangan saat harus berakting tanpa lawan main nyata. “Aku harus membayangkan robotnya ada di depan atau di sampingku, jadi imajinasi harus kuat,” katanya.

Sementara itu, Bimoky menilai keterlibatan profesi voice actor dan body actor menjadi langkah baru dalam industri film Indonesia. “Film ini bukan hanya soal aktor layar, tapi membuka mata bahwa Indonesia punya banyak talenta kreatif lain seperti voice actor dan body actor yang selama ini jarang diangkat,” jelasnya.

Sementara itu, Vanya Rivani yang memerankan karakter Kimchi mengaku tidak mengalami kesulitan berarti dalam proses pengisian suara. “Karena aku suka nonton drama Korea, jadi basic-nya sudah ada. Tantangannya tidak terlalu ada, justru prosesnya menyenangkan dan aku senang bisa dipercaya di proyek ini,” ujarnya.

Bimoky juga menambahkan bahwa seluruh tim memiliki semangat yang sama dalam mengerjakan film ini. “Kami semua punya visi yang sama. Capeknya bareng, senangnya bareng, bangganya juga bareng. Ini pilihan kami untuk membuat film ini bersama,” tambahnya.

Produser Dendi Reynando menilai film anak di Indonesia masih minim, padahal memiliki peran penting dalam membentuk imajinasi generasi muda. “Kami ingin anak-anak punya haknya di sinema. Film anak itu masih undersupply di Indonesia,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya menghadirkan intellectual property (IP) lokal yang mampu bersaing dengan produk luar negeri. Melalui Pelangi di Mars, tim produksi berharap dapat menghadirkan narasi baru bahwa anak Indonesia mampu menjadi bagian dari solusi global, bahkan dalam cerita lintas planet.

Dengan respons positif dari penonton selama roadshow, film ini diharapkan tidak hanya menjadi hiburan keluarga saat Lebaran, tetapi juga menjadi langkah awal penguatan ekosistem film anak dan industri kreatif Indonesia. (q cox, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *