BisnisPeristiwa

Harga Emas Tembus Rp3,1 Juta, Pakar UK Petra Angkat Bicara

116
×

Harga Emas Tembus Rp3,1 Juta, Pakar UK Petra Angkat Bicara

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Kenaikan harga emas Antam (Logam Mulia) sepanjang 2025 hingga awal 2026 menjadi fenomena ekonomi yang perlu dipahami secara kritis, khususnya oleh generasi muda dan kalangan akademik. Hingga akhir Januari 2026, harga emas sempat menembus angka di atas Rp3.100.000 per gram, dengan kenaikan tahunan mencapai sekitar 50–60 persen.

Pakar ekonomi dari Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, Dr. Dra. Nanik Linawati, MM., menilai lonjakan harga tersebut bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan cerminan dari meningkatnya kecemasan investor terhadap ketidakpastian ekonomi global.

Menurut dosen Program Studi Manajemen, Program Finance and Investment, School of Business and Management (SBM) UK Petra itu, pergerakan harga emas perlu dipahami dalam dua perspektif, yakni jangka pendek dan jangka panjang.

“Dalam jangka pendek, harga emas berpotensi mengalami koreksi. Ini wajar karena sebagian investor melakukan profit taking seiring inflasi yang mulai terkendali dan sentimen pasar yang berangsur membaik,” jelasnya.

Namun, untuk jangka panjang, ia memprediksi harga emas tetap memiliki kecenderungan naik. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor struktural, seperti ketegangan geopolitik global, perlambatan ekonomi dunia, hingga persoalan demografi internasional yang semakin kompleks.

Dr. Nanik menekankan bahwa kondisi ekonomi dunia saat ini berada dalam fase yang tidak biasa. Eskalasi konflik di berbagai kawasan, kebijakan tarif tinggi antarnegara, hingga dinamika politik global—termasuk retorika politik Amerika Serikat—menciptakan iklim investasi yang penuh ketidakpastian.

Dalam konteks ini, emas kembali diposisikan sebagai aset lindung nilai (safe haven). Berbeda dengan saham, kripto, atau instrumen keuangan lain yang suplai dan nilainya dapat dipengaruhi kebijakan otoritas, emas memiliki karakteristik kelangkaan alami.

“Emas tidak bisa diciptakan secara instan. Ia terikat pada hukum alam dan proses eksplorasi yang panjang. Justru kelangkaan inilah yang membuat emas relatif aman ketika instrumen investasi lain kehilangan arah,” ujarnya.

Lebih jauh, Dr. Nanik mengingatkan bahwa kenaikan harga emas yang terlalu tinggi justru dapat menjadi indikator peringatan bagi perekonomian global. Menurutnya, lonjakan ini tidak lagi didorong oleh kebutuhan normal seperti perhiasan, melainkan oleh krisis kepercayaan investor.

“Ini adalah sinyal merah. Investor mulai meninggalkan aset produktif hanya demi menyelamatkan nilai kekayaan mereka. Kondisi seperti ini sering menjadi pertanda mendekatnya risiko resesi global,” ungkap dosen yang telah mengajar sejak 1990 tersebut.

Ia menyebut situasi ekonomi dunia saat ini sebagai sebuah “benang kusut”, di mana ketegangan geopolitik, pergeseran aliansi negara, dan ego kekuasaan saling memperumit kondisi pasar global.

Sebagai pendidik di bidang keuangan dan pengampu Mata Kuliah Keuangan Personal, Dr. Nanik menekankan pentingnya literasi keuangan dan sikap tenang dalam menghadapi dinamika pasar.

“Di dunia yang semakin tidak menentu, emas memang menjadi sandaran nyata. Namun stabilitas sejati ada pada manusia sebagai pengelola keputusan ekonomi. Investor harus tetap rasional dan tidak tergesa-gesa agar mampu bertindak bijak,” tutupnya.

Fenomena kenaikan harga emas ini menjadi pembelajaran penting, tidak hanya bagi investor, tetapi juga bagi dunia pendidikan, untuk terus menanamkan pemahaman ekonomi yang kritis dan berimbang di tengah ketidakpastian global. (q cox, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *