Peristiwa

Hell from Surabaya, Dihidupkan Kembali Melalui Pementasan Teater

231
×

Hell from Surabaya, Dihidupkan Kembali Melalui Pementasan Teater

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Yayasan Surabaya Juang sukses menggelar pementasan teater “Bung Tomo Pandu Garuda” di area Tugu Pahlawan, Surabaya, yang melibatkan 400 aktor. Acara ini bertujuan untuk menggugah kesadaran publik tentang makna kepahlawanan melalui sosok Bung Tomo, yang dikenal sebagai pahlawan nasional dengan orasi yang membakar semangat juang rakyat Indonesia.

Pembina Yayasan Surabaya Juang, Heri Lentho mengatakan dalam pementasan ini, penonton disuguhkan dengan gambaran sosok Bung Tomo yang karismatik, mengenakan baret hijau dan seragam pejuang, serta menampilkan ekspresi tegas dan berani. “Yayasan Surabaya Juang menghidupkan kembali sosok Sutomo dalam pementasan teater sebagai upaya menggugah kesadaran publik tentang makna kepahlawanan,” ujarnya.

Acara ini tidak hanya menampilkan lakon Bung Tomo, tetapi juga dimeriahkan oleh penampilan berbagai seniman, termasuk Pritta Kartika dari The Voice Indonesia, Proborini Sinden Joss, dan Higayon Singer. Kolaborasi komunitas seni seperti Sanggar Karawitan BALADEWA Surabaya dan Surabaya Menari turut menambah kemeriahan acara.

Bung Tomo, yang berusia 25 tahun saat Surabaya diserang oleh Sekutu dan NICA, dikenal karena kemampuannya dalam berorasi yang mampu mempersatukan rakyat. “Nasionalisme Sutomo lahir dari kepanduan Indonesia. Lewat orasinya, ia mempersatukan banyak pihak,” jelas Heri.

Pementasan ini juga menggambarkan perjalanan hidup Bung Tomo, termasuk pengaruh Soekarno sebagai guru politiknya. Meskipun sering berselisih dengan pemimpin bangsa, Bung Tomo memilih untuk memimpin perjuangan rakyat, menolak pendekatan diplomatis. Perjuangannya di Surabaya, yang dikenal sebagai “Hell from Surabaya,” menjadi saksi bisu perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajah.

Selain sisi heroik, pementasan ini juga menampilkan sisi romantis Bung Tomo, termasuk kisah cintanya dengan istrinya, Sulistina, yang menjadi penyemangat hidupnya. Momen-momen ini menambah dimensi pada karakter Bung Tomo, menunjukkan bahwa di balik kepahlawanan, terdapat sisi kemanusiaan yang mendalam.

Dengan pementasan “Bung Tomo Pandu Garuda,” Yayasan Surabaya Juang berharap dapat menanamkan nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme di kalangan generasi muda, mengingatkan kita akan pentingnya perjuangan dan pengorbanan para pahlawan dalam meraih kemerdekaan. Nama Bung Tomo akan selalu dikenang, tidak hanya sebagai pahlawan, tetapi juga sebagai simbol semangat juang dan cinta tanah air. (q cox, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *