JAKARTA (Suarapubliknews) ~ Inflasi biaya medis yang terus meningkat menjadi tantangan serius bagi sistem kesehatan Indonesia. Sejumlah sumber mencatat kenaikan biaya medis di Indonesia mencapai hampir 20 persen pada 2025, jauh di atas rata-rata negara Asia lainnya. Kondisi ini berpotensi membatasi akses masyarakat terhadap layanan kesehatan dan perlindungan asuransi.
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan Medix Global di Jakarta, Januari 2026, yang membahas lanskap kesehatan Indonesia serta peran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam mendefinisikan ulang layanan kesehatan dan asuransi.
Founder dan CEO Medix Global, Sigal Atzmon, menilai peningkatan biaya medis perlu diimbangi dengan inovasi berbasis teknologi agar sistem kesehatan tetap berkelanjutan. “Kami berfokus menghadirkan solusi yang tidak hanya meningkatkan hasil kesehatan pasien, tetapi juga membantu mengendalikan inflasi biaya medis. AI membuka peluang besar untuk mencapai kedua tujuan tersebut,” ujarnya.
Menurut Medix, inflasi biaya medis di Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai 19,8 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia sebesar 13,2 persen. Dampaknya, sejumlah perusahaan asuransi menyesuaikan premi secara signifikan, bahkan hingga dua kali lipat untuk produk tertentu.
Di tengah tantangan tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai memperkenalkan sejumlah kebijakan baru, seperti penerapan skema co-pay dan kewajiban pembentukan dewan penasihat kesehatan bagi perusahaan asuransi. Kebijakan ini bertujuan memperkuat pengawasan sekaligus mendorong pengelolaan risiko kesehatan yang lebih transparan.
Medix memandang Indonesia sebagai salah satu pasar strategis di Asia Tenggara, seiring pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan. Namun, Sigal menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi harus diiringi dengan sistem kesehatan yang efisien dan inklusif.
“AI memungkinkan personalisasi perawatan kesehatan, mulai dari navigasi layanan, pencegahan, hingga dukungan kesehatan mental. Teknologi ini bukan menggantikan tenaga medis, tetapi memperkuat pengambilan keputusan klinis,” katanya.
Chief Business Officer Medix Global, Jonathan Sternberg, menambahkan bahwa pemanfaatan AI dan analitik data dapat mentransformasi seluruh rantai nilai layanan kesehatan dan asuransi. “Kita perlu bergeser dari sekadar mengejar tren inflasi biaya medis menuju pemberdayaan masyarakat agar mampu mengelola kesehatannya secara personal, transparan, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti masih kuatnya kecenderungan masyarakat mencari perawatan ke luar negeri, padahal banyak kasus dapat ditangani secara optimal di dalam negeri dengan biaya lebih rendah.
Sejak beroperasi di Indonesia, Medix mencatat sejumlah dampak layanan berbasis data dan AI, antara lain membantu lebih dari 20 persen anggotanya menghindari biaya medis yang tidak perlu serta meningkatkan akurasi diagnosis dan rencana perawatan. Pada layanan penyakit kronis, sebagian besar pasien menunjukkan perbaikan signifikan dalam indikator kesehatan dalam enam bulan.
Medix menilai penerapan AI yang bertanggung jawab, didukung regulasi yang tepat serta kolaborasi antara pemerintah, asuransi, dan penyedia layanan kesehatan, menjadi kunci dalam membangun sistem kesehatan Indonesia yang berkelanjutan. (q cox, tama dini)












