PemerintahanPeristiwa

Jagal Mogok, RPH Surabaya Tegaskan Ketersediaan Daging Tetap Terjaga

113
×

Jagal Mogok, RPH Surabaya Tegaskan Ketersediaan Daging Tetap Terjaga

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) – Aksi mogok massal yang dilakukan para jagal di Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian sempat berdampak pada distribusi daging segar di Kota Surabaya. Namun, manajemen PT RPH Perseroda Surabaya memastikan ketersediaan daging sapi bagi masyarakat masih dalam kondisi aman.

Direktur Utama PT Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya Perseroda, Fajar Arifianto Isnugroho, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas dampak aksi mogok tersebut. “Jadi yang pertama saya meminta maaf kepada masyarakat Surabaya. Karena akibat aksi mogok memotong sapi di (RPH) Pegirian, masyarakat agak kesulitan mendapatkan pasokan daging segar,” ujar Fajar di Balai Kota Surabaya, Senin (12/1/2026).

Meski demikian, Fajar menegaskan stok daging sapi di Kota Surabaya masih mencukupi. Berdasarkan hasil pemantauan tim monitoring RPH, pemotongan sapi masih berjalan di unit RPH Kedurus.

“Saya pastikan hari ini, saya cek tadi oleh tim monitoring daging RPH bahwa ketersediaan daging masih cukup. Karena apa? Kami masih punya RPH Surabaya unit Kedurus yang masih memotong sapi hari ini. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir, tidak perlu panik,” jelasnya.

Selain itu, Fajar juga memastikan bahwa masyarakat tetap dapat memperoleh daging sapi melalui outlet resmi RPH Surabaya maupun pasar tradisional. “Masyarakat bisa mendapatkan daging sapi yang terbaik, bisa melalui outlet RPH Surya Mart, atau melalui pasar-pasar. Ada 11 outlet di pasar tradisional yang disuplai oleh para mitra jagal dari Kedurus,” katanya.

Terkait rencana relokasi aktivitas pemotongan sapi dari Pegirian ke RPH Tambak Osowilangun (TOW), Fajar menegaskan yang berpindah hanyalah lokasi pemotongan, bukan pusat perdagangan daging. Sedangkan Pasar Arimbi sebagai sentra perkulakan daging di Surabaya lokasinya tetap.

“Jadi yang pindah adalah tempat pemotongannya saja. Pasar Daging Arimbi sebagai sentra perkulakan daging terbaik di Surabaya, tidak pindah. Lokasinya tetap di Pegirian, Jalan Arimbi,” tegas dia.

Karena itu, Fajar menyatakan bahwa manajemen RPH Surabaya memberikan waktu hingga akhir Idulfitri 2026 bagi para jagal Pegirian untuk tetap memaksimalkan fasilitas lama. “Artinya, ada waktu Januari, Februari, sampai dengan akhir Maret untuk memanfaatkan RPH Pegirian,” ungkap Fajar.

Setelah periode tersebut, seluruh aktivitas pemotongan akan dialihkan ke RPH TOW. Selama masa transisi, RPH akan mengoperasikan dua lokasi secara paralel. “Selama Januari, Februari, Maret, RPH memanfaatkan dua tempat pemotongan sekaligus. Paralel kami jalankan, TOW jalan, Pegirian jalan,” katanya.

Menurut Fajar, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan teknis dan operasional RPH TOW, termasuk kelengkapan fasilitas dan sertifikasi. “Kami akan cek yang sudah dibangun itu apakah sudah sesuai atau tidak. Ketika ada perbaikan, ada kekurangan apa, kan kita perlu pemotongan itu. Mengurus sertifikat halal dan sebagainya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kebutuhan daging sapi di Surabaya mencapai sekitar 40 ton per hari, dengan separuhnya dipenuhi dari pemotongan di RPH Surabaya. “Di Surabaya itu sekitar 40 ton ya, jadi 40 ton itu Surabaya, tapi yang 20 ton dipenuhi dari pemotongan RPH Surabaya,” ungkapnya.

Terkait dampak mogok kerja, Fajar menegaskan pihaknya tetap memprioritaskan jagal Pegirian untuk beroperasi di RPH TOW. “Prioritas kami, kami memprioritaskan jagal-jagal pegirian ini untuk ikut mengoperasikan di TOW,” katanya.

Ia juga mengakui adanya minat dari jagal luar daerah untuk mengisi operasional di TOW, meski saat ini masih difokuskan bagi jagal Pegirian. “Respons dari jagal luar lumayan banyak. Tapi saya katakan sebentar dulu, kamu saya data, tapi saya perintahkan dulu jagal Pegirian untuk masuk,” ujarnya.

Menurut Fajar, RPH TOW secara fasilitas telah siap beroperasi. Bahkan, fasilitas di sana lebih modern dibandingkan RPH Pegirian yang telah berusia hampir satu abad. “TOW secara fungsi sudah siap, menampung 150 ekor sapi Brahman Cross (BX), kemudian 80 ekor sapi lokal, kemudian ada 28 unit handrail. Persis sama di RPH Pegirian, tidak ada yang berubah, bahkan tempatnya lebih representatif karena dibangun lebih modern dan IPAL-nya lebih maksimal,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam sepekan ke depan RPH Surabaya akan melakukan pemotongan mandiri untuk menjaga pasokan. “Jadi seminggu ini kami RPA Surabaya akan melakukan pemotongan mandiri, kami juga akan memotong sapi, dari Kedurus juga akan memotong sapi. InsyaAllah bisa terpenuhi kebutuhan masyarakat Surabaya,” tambahnya.

Pihaknya berharap aksi mogok para jagal ini tidak berlarut-larut. Sebab, kata dia, hal ini dapat berpotensi merugikan jagal sendiri. “Harapan kami jangan sampai mogok, karena kalau mereka mogok, pelanggannya akan cari supplier baru,” pungkas Fajar. (q cox)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *