Jatim RayaPemerintahan

Jawa Timur Perkuat Sinergi Hadapi Tekanan Global, BI Soroti Pentingnya Kolaborasi Lintas Sektor

73
×

Jawa Timur Perkuat Sinergi Hadapi Tekanan Global, BI Soroti Pentingnya Kolaborasi Lintas Sektor

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Penguatan sinergi lintas sektor menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas sekaligus melanjutkan momentum pertumbuhan ekonomi Jawa Timur di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Tekanan eksternal yang dipicu konflik geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah, dinilai berpotensi memengaruhi kinerja ekonomi daerah, baik dari sisi perdagangan, investasi, maupun stabilitas harga.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim, menegaskan bahwa kolaborasi antar pemangku kepentingan menjadi faktor krusial dalam menghadapi situasi tersebut. “Sinergi dan adaptasi menjadi kunci untuk menghadapi tantangan sekaligus menangkap peluang di tengah dinamika global,” ujarnya.

Meski dihadapkan pada tekanan global, ekonomi Jawa Timur tercatat tetap solid dengan pertumbuhan sebesar 5,33 persen (year on year) pada 2025. Kinerja ini menjadi modal penting untuk menjaga ketahanan ekonomi ke depan.

Penguatan sinergi tidak hanya dilakukan pada level kebijakan, tetapi juga diarahkan pada sektor-sektor strategis, seperti hilirisasi industri, investasi, hingga penguatan ketahanan pangan.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menekankan pentingnya peran provinsi ini sebagai Gerbang Baru Nusantara, khususnya dalam memperkuat perdagangan dan investasi. “Selain itu, Jawa Timur juga memiliki peran penting sebagai salah satu lumbung pangan nasional, sehingga upaya menjaga distribusi dan stabilitas pasokan menjadi bagian dari strategi pengendalian inflasi,” katanya.

Di tengah meningkatnya risiko global, berbagai peluang tetap terbuka, terutama melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan sektor unggulan, serta dukungan kebijakan yang tepat sasaran. “Untuk itu, diperlukan keselarasan langkah antara pemerintah, pelaku usaha, sektor keuangan, hingga akademisi agar respons terhadap dinamika global dapat dilakukan secara efektif,” tambahnya.

Penguatan sinergi tersebut menjadi salah satu fokus utama yang mengemuka dalam forum Jatim Talk yang digelar di Surabaya pada awal April 2026. Forum yang diinisiasi Bank Indonesia ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha, perbankan, hingga akademisi, untuk menyamakan persepsi dalam merespons tantangan global.

Dalam kesempatan tersebut, Bank Indonesia juga menyerahkan Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Jawa Timur kepada Pemerintah Provinsi sebagai dasar perumusan kebijakan berbasis data.

Sejumlah rekomendasi yang dihasilkan antara lain mencakup:
• penguatan distribusi dan integrasi perdagangan
• percepatan investasi, khususnya pada sektor hilirisasi
• penguatan ketahanan pangan dan agribisnis
• pengembangan pariwisata dan UMKM
• percepatan digitalisasi ekonomi

Forum ini juga menjadi bagian dari rangkaian menuju East Java Economic Forum (EJAVEC) 2026 yang akan digelar pada September mendatang.

Dengan tantangan global yang masih tinggi, sinergi dinilai menjadi fondasi utama dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Melalui kolaborasi yang kuat dan langkah adaptif, Jawa Timur diharapkan mampu tidak hanya bertahan, tetapi juga memperkuat daya saing dan memanfaatkan peluang di tengah ketidakpastian global. (q cox, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *