Pemerintahan

Menteri LH Puji Surabaya Kelola 1.800 Ton Sampah per Hari, Sebut Kota Pahlawan Terbaik Nasional

107
×

Menteri LH Puji Surabaya Kelola 1.800 Ton Sampah per Hari, Sebut Kota Pahlawan Terbaik Nasional

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) RI Hanif Faisol Nurofiq memuji kinerja Pemerintah Kota Surabaya dalam pengelolaan lingkungan hidup. Ia menyebut Kota Pahlawan sebagai salah satu kota dengan kinerja pengelolaan sampah terbaik di Indonesia, bahkan dinilai setara dengan kota-kota besar dunia dari sisi budaya kebersihan.

Pujian tersebut disampaikan Menteri LH Hanif Faisol saat menghadiri apel dan kerja bakti korve Sungai Kalimas bersama ribuan warga Surabaya.

“Wali Kota Surabaya, Bapak Eri Cahyadi, merupakan salah satu kepala daerah yang memiliki kinerja sangat baik dalam pengelolaan lingkungan hidup. Kami menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya,” kata Menteri LH Hanif Faisol, Jumat (6/3/2026).

Ia mengaku terkesan melihat partisipasi masyarakat yang sangat besar dalam kegiatan tersebut. Tercatat lebih dari 7.000 orang terlibat dalam kegiatan korve di berbagai titik kota.

“Surabaya benar-benar menjadi kota yang membanggakan dalam berbagai aspek pembangunan. Di tengah dinamika pembangunan yang pesat, Surabaya menjadi salah satu kota yang berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.

Menteri LH Hanif Faisol menilai keberhasilan Surabaya semakin terlihat dari kemampuan kota dengan hampir 4 juta penduduk itu dalam menjaga kebersihan dan kualitas lingkungan. “Saya sudah berkeliling ke banyak kota di Indonesia. Surabaya menjadi salah satu kota besar yang mampu mengelola persoalan sampahnya dengan sangat baik,” katanya.

Setiap hari, Surabaya menghasilkan sekitar 1.800 ton sampah. Namun sebagian besar volume tersebut telah berhasil ditangani melalui sistem pengelolaan yang terintegrasi. Menurut Menteri LH Hanif Faisol, capaian tersebut tidak terlepas dari penerapan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dimulai dari tingkat rumah tangga.

“Pengelolaan sampah yang paling ideal adalah yang dimulai dari rumah tangga, melalui pemilahan sampah secara konsisten. Dengan pemilahan yang baik, sampah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang semata, tetapi bisa menjadi sumber daya ekonomi, sumber energi, dan sumber daya baru bagi masyarakat,” jelasnya.

Ia juga menilai keberhasilan Surabaya dalam mengoperasikan PLTSa Benowo yang mampu mengubah sampah menjadi energi listrik. Program pengolahan sampah menjadi energi tersebut merupakan gagasan yang diperkenalkan pemerintah pusat sekitar satu dekade lalu.

“Surabaya menjadi salah satu kota yang konsisten menjalankan pengolahan sampah menjadi energi listrik secara berkelanjutan,” tuturnya.

Meski demikian, ia mengungkapkan masih terdapat sekitar 800 ton sampah per hari yang menjadi pekerjaan rumah untuk ditangani. Pemerintah pusat bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya saat ini tengah menyiapkan rencana pembangunan fasilitas pengolahan sampah tambahan.

Apabila rencana tersebut terealisasi, Surabaya akan memiliki dua pembangkit listrik dari pengolahan sampah, yang akan memperkuat sistem pengelolaan sampah kota secara menyeluruh.

Selain pengelolaan sampah, Menteri LH Hanif Faisol juga menilai kualitas lingkungan Surabaya masih terjaga, termasuk dari sisi kualitas udara.

“Kita masih bisa melihat langit biru di Surabaya. Ini menunjukkan bahwa di tengah aktivitas ekonomi yang tinggi, Surabaya masih mampu mengendalikan emisi gas buang dan menjaga kualitas lingkungan,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak mungkin dicapai oleh satu pihak saja, melainkan hasil kolaborasi berbagai elemen masyarakat. “Keberhasilan pengelolaan lingkungan hidup tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Ada peran pemerintah daerah, TNI, Polri, mahasiswa, komunitas, dan tentu saja masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan kegiatan kerja bakti yang digelar di sepanjang Sungai Kalimas menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya kebersihan di Kota Pahlawan. Ia menjelaskan, kegiatan tersebut diikuti 5.316 peserta yang tersebar di delapan titik lokasi, mulai dari kawasan Monumen Kapal Selam hingga Kampung Gemblongan.

Selain itu, sebanyak 1.953 peserta mengikuti apel dan kerja bakti langsung di lokasi utama. Para peserta tersebut kemudian bergabung dengan ribuan peserta lainnya di berbagai titik kegiatan. Secara keseluruhan, jumlah partisipan yang terlibat mencapai 7.269 orang.

“Kegiatan ini merupakan wujud komitmen bersama dalam memperkuat budaya kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan. Ini juga menjadi langkah nyata dalam mendorong transformasi pengelolaan sampah, dari paradigma lama kumpul–angkut–buang menuju pengurangan sampah sejak dari sumbernya,” kata Wali Kota Eri.

Ia menambahkan, kunjungan Menteri Lingkungan Hidup juga memberikan dorongan semangat bagi masyarakat Surabaya dalam memperkuat gerakan pengelolaan sampah dari sumbernya.

“Hari ini kami mendapatkan semangat tambahan dari Bapak Menteri. Selama ini warga Surabaya sudah mulai melakukan pemilahan sampah dari sumbernya, dan arahan dari beliau semakin menguatkan keyakinan masyarakat bahwa program ini memang sejalan dengan amanat undang-undang,” ujarnya.

Selain itu, Pemkot Surabaya juga akan menggelar kerja bakti setiap hari Jumat sebagai upaya menjaga kebersihan kota secara berkelanjutan. “Kami ingin gerakan ini terus dilakukan di lingkungan pemerintahan, kawasan permukiman, ruang publik, hingga sektor usaha dan pendidikan,” ujarnya.

Wali Kota Eri menegaskan bahwa menjaga kebersihan kota tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata, tetapi harus menjadi gerakan bersama seluruh masyarakat. “Jika ada yang masih membuang sampah sembarangan, tentu akan ada sanksi sosial. Harapannya, ke depan tidak ada lagi warga yang membuang sampah di sembarang tempat,” pungkasnya. (q cox)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *