BisnisPeristiwa

Pasar Modal Syariah Indonesia Melaju: Dari Alternatif Menjadi Arus Utama

62
×

Pasar Modal Syariah Indonesia Melaju: Dari Alternatif Menjadi Arus Utama

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Di tengah dinamika pasar global dan volatilitas ekonomi, Pasar Modal Syariah (PMS) Indonesia justru menunjukkan akselerasi. Bukan sekadar bertahan, tetapi tumbuh signifikan—baik dari sisi investor, nilai transaksi, maupun inovasi produk.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Desember 2025 mencatat jumlah investor saham syariah telah menembus 217.157 investor, tumbuh 28 persen secara tahunan. Lebih menarik lagi, jumlah investor aktif meningkat 34 persen menjadi 43.135 investor .

Vice Director of Sharia Capital Market BEI, Irwan Abdalloh, menilai tren ini menunjukkan bahwa investasi syariah tidak lagi dipandang sebagai segmen alternatif, melainkan bagian dari arus utama pasar modal nasional.

“Pasar modal syariah Indonesia tumbuh positif dan signifikan sepanjang 2025. Pertumbuhan ini bukan hanya dari sisi jumlah investor, tetapi juga aktivitas dan kualitas produk yang semakin beragam,” ujarnya.

Pertumbuhan investor tersebut diikuti oleh lonjakan aktivitas transaksi. Nilai transaksi investor syariah mencapai Rp11,2 triliun, melonjak 104 persen dibanding tahun sebelumnya. Volume transaksi tercatat 30,6 miliar saham dengan frekuensi 2,7 juta kali transaksi .

Di sisi kinerja pasar, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) menguat 43 persen sepanjang 2025 dan ditutup di level 308,607. Kapitalisasi pasar saham syariah mencapai Rp8.972 triliun, naik 31 persen secara tahunan. Menariknya, performa ISSI mampu bersaing bahkan melampaui sejumlah indeks domestik dan indeks syariah global pada periode yang sama .

Irwan menyebutkan bahwa daya saing ini mencerminkan struktur saham syariah yang semakin solid. “Saham syariah kini bukan hanya soal kepatuhan prinsip, tetapi juga menunjukkan kinerja yang kompetitif. Ini penting untuk memperluas basis investor, termasuk generasi muda,” jelasnya.

Jika melihat perjalanan historisnya, perkembangan pasar modal syariah Indonesia memang tidak instan. Sejak peluncuran reksa dana syariah pertama pada 1997 hingga hadirnya Jakarta Islamic Index (JII) pada 2000, fondasi terus diperkuat melalui regulasi dan inovasi produk. Hingga akhir 2025, tercatat: 672 saham syariah, 96 sukuk negara, 293 sukuk korporasi, 258 reksa dana syariah, 2 ETF syariah, 2 EBA syariah.

Di sektor sukuk, pertumbuhan nilai outstanding menunjukkan tren ekspansi yang konsisten. Sementara reksa dana syariah mencatat NAB Rp83 triliun dengan rasio 12 persen terhadap total industri reksa dana nasional .

Tahun 2025 juga menjadi momentum penting dengan sejumlah tonggak baru, seperti peluncuran indeks S&P/IDX Indonesia Shariah High Dividend, penerbitan EBA-KIK Syariah pertama, hingga Orange Sukuk pertama di dunia .

Menurut Irwan, diversifikasi produk ini menjadi kunci daya tahan pasar. “Semakin lengkap instrumen yang tersedia, semakin luas pilihan investor. Ini memperkuat positioning pasar modal syariah sebagai ekosistem yang matang dan berkelanjutan,” terangnya.

Penguatan tidak hanya terjadi di sisi pasar, tetapi juga regulasi. Hingga saat ini terdapat 11 POJK dan 28 fatwa DSN-MUI yang menjadi landasan operasional pasar modal syariah . POJK No. 8 Tahun 2025 menjadi regulasi terbaru yang memperketat kriteria seleksi efek syariah. Batas pendapatan non-halal diturunkan dari maksimal 10 persen menjadi 5 persen (efektif April 2026), dan rasio utang berbasis bunga akan diturunkan bertahap menjadi 33 persen dalam satu dekade.

Irwan menilai kebijakan ini sebagai langkah menuju standar global yang lebih tinggi. “Penyempurnaan regulasi ini menunjukkan komitmen kita untuk menjaga integritas dan kredibilitas pasar modal syariah. Standar yang lebih ketat justru meningkatkan kepercayaan investor,” lanjutnya.

Indonesia sendiri menjadi salah satu negara yang memiliki sistem transaksi saham syariah end-to-end—mulai dari perdagangan, kliring, penyelesaian, hingga perlindungan investor—yang seluruhnya telah memenuhi prinsip syariah.

Memasuki 2026, BEI menyiapkan Roadmap Pasar Modal Syariah 2026–2030 sebagai arah pengembangan lima tahun ke depan . Selain itu, berbagai program edukasi dan aktivasi investor seperti IDX Islamic Dare To Invest dan Dare To Trade akan diperkuat, disertai pengembangan digital platform dan survei literasi saham syariah.

Perayaan 15 Tahun Kebangkitan Pasar Modal Syariah Indonesia juga akan menjadi momentum refleksi sekaligus akselerasi pertumbuhan. Di tengah meningkatnya minat generasi muda terhadap investasi yang berkelanjutan dan berbasis nilai, pasar modal syariah memiliki peluang besar untuk memperluas inklusi keuangan nasional.

“Ke depan, fokus kami bukan hanya pertumbuhan kuantitatif, tetapi kualitas investor dan kedalaman pasar. Kami ingin pasar modal syariah menjadi pilihan investasi yang rasional sekaligus bernilai,” tutupnya.

Jika tren ini berlanjut, pasar modal syariah Indonesia bukan hanya menjadi pelengkap sistem keuangan nasional—tetapi salah satu penggerak utamanya. (q cox, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *