Pemerintahan

Pemkot Surabaya Dukung Peluncuran PFI Chapter Surabaya, Perkuat Kolaborasi Filantropi di Jawa Timur

67
×

Pemkot Surabaya Dukung Peluncuran PFI Chapter Surabaya, Perkuat Kolaborasi Filantropi di Jawa Timur

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyatakan dukungan penuh terhadap peluncuran Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) Chapter Surabaya yang digelar di Graha Sawunggaling, Kamis (22/1/2026).

Kegiatan ini mengusung tema Penguatan Potensi Filantropi di Jawa Timur melalui Integrasi Aksi Kolektif, Ko-kreasi, dan Kolaborasi Inklusif, sebagai upaya memperkuat ekosistem filantropi nasional melalui pendekatan kolaboratif di tingkat daerah.

Pembentukan PFI Chapter Surabaya menjadi langkah strategis PFI setelah sebelumnya sukses menghadirkan chapter pertama di Sulawesi Selatan melalui PFI Chapter Makassar. Kehadiran chapter kedua ini diharapkan menjadi katalisator sinergi antara lembaga filantropi, pemerintah daerah, dunia usaha, serta masyarakat sipil di Jawa Timur.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Dedik Irianto, menegaskan bahwa pemkot menyambut baik kehadiran PFI Chapter Surabaya sebagai mitra strategis dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan kota. Menurutnya, kompleksitas permasalahan perkotaan yang dihadapi Surabaya tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan sumber daya dan anggaran pemerintah daerah semata.

“Kita ketahui bersama bahwa persoalan yang dihadapi pemerintah kota sangat beragam. Bapak Walikota (Eri Cahyadi) memiliki komitmen yang kuat dan konsisten untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, apabila seluruh persoalan sosial harus sepenuhnya ditopang oleh APBD, tentu kemampuan anggaran daerah memiliki keterbatasan,” ujar Dedik.

Menurutnya, permasalahan sosial seperti kemiskinan, stunting, kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan, hingga pemberdayaan kelompok rentan membutuhkan pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak. Dalam konteks inilah, peran lembaga dan perhimpunan filantropi menjadi sangat penting sebagai mitra pembangunan.

“Lembaga filantropi memiliki kapasitas, pengalaman, serta jejaring yang luas. Mereka siap berkontribusi di berbagai sektor, tidak hanya lingkungan, tetapi juga sosial, kesehatan, pendidikan, dan kemasyarakatan. Ini menjadi kekuatan besar jika dapat dikoordinasikan dengan baik bersama pemerintah,” jelasnya.

Dedik menambahkan, Surabaya dinilai memiliki iklim yang kondusif bagi tumbuhnya kolaborasi filantropi. Hal tersebut tidak terlepas dari keseriusan dan arah kebijakan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi yang secara konsisten menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai prioritas utama pembangunan.

“Para filantropis melihat Surabaya sebagai kota yang memiliki komitmen kuat terhadap kesejahteraan warganya. Keseriusan ini menjadi magnet bagi berbagai lembaga filantropi, baik yang berbasis lokal maupun nasional, untuk bergabung dan membuka chapter di Surabaya,” ungkapnya.

Ia berharap, dengan hadirnya PFI Chapter Surabaya, komunikasi dan koordinasi antara lembaga filantropi dengan Pemkot Surabaya dapat berjalan lebih terstruktur dan terarah. Dengan demikian, berbagai inisiatif bantuan dan program sosial dapat diselaraskan dengan kebutuhan dan prioritas pembangunan daerah.

“Kolaborasi ini nantinya akan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan. Ketika pemerintah memiliki keterbatasan anggaran pada program-program tertentu yang bersifat mendesak, seperti penanganan stunting atau penguatan layanan sosial, maka filantropi dapat hadir untuk memberikan dukungan yang tepat sasaran,” terangnya.

Lebih lanjut, Dedik menekankan bahwa sinergi antara pemerintah dan filantropi diharapkan mampu mempercepat pembangunan Kota Surabaya sekaligus memperluas jangkauan manfaat kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak dapat berjalan sendiri dalam mewujudkan kesejahteraan warga.

“Percepatan pembangunan membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan. Kolaborasi ini adalah bentuk simbiosis mutualisme, di mana pemerintah terbantu dalam menjalankan program-program kesejahteraan, sementara lembaga filantropi dapat berkontribusi secara nyata dan berkelanjutan,” tegasnya.

Dalam sambutannya, Sekretaris Badan Perhimpunan Filantropi Indonesia, Irvan Nugraha, menyampaikan bahwa Filantropi Indonesia hadir dengan visi menjadi wadah utama gerakan filantropi yang inklusif dan berkelanjutan. PFI mendorong kolaborasi lintas sektor sekaligus memperkuat kapasitas organisasi filantropi agar mampu menghadirkan dampak sosial yang terukur.

“Saat ini keanggotaan Filantropi Indonesia telah mendekati 300 anggota yang tersebar di berbagai daerah, termasuk Surabaya dan Jawa Timur. Hal inilah yang mendorong kami untuk memperkuat ekosistem filantropi di Jawa Timur melalui pembentukan chapter ini,” jelas Irvan.

Ia juga menekankan bahwa Indonesia memiliki kekhasan tersendiri dalam praktik filantropi, yang berakar pada nilai-nilai budaya seperti gotong royong. Nilai tersebut, menurutnya, menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem filantropi yang berkelanjutan.

“Budaya bisa kita analogikan sebagai software, sementara ekosistem adalah hardware-nya. Keduanya harus dikembangkan secara seimbang agar filantropi dapat tumbuh, bergerak, dan memberi dampak dengan tetap memiliki identitas yang kuat,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator PFI Chapter Surabaya sekaligus Direktur LAZNAS Nurul Hayat, Kholaf Hibatulloh, menuturkan bahwa Jawa Timur memiliki rekam jejak kuat dalam kolaborasi filantropi, salah satunya saat penanganan bencana di Aceh dan Sumatera. Kolaborasi antara filantropi, dunia usaha, dan pemerintah dari Jawa Timur dinilai mampu memberi dampak nyata hingga kini.

Menurutnya, penamaan Chapter Surabaya merepresentasikan posisi Surabaya sebagai ibu kota Provinsi Jawa Timur, meskipun lingkup kerja chapter mencakup seluruh wilayah provinsi. Ia berharap keberadaan PFI Chapter Surabaya dapat memperkuat peran filantropi yang telah berjalan sekaligus membuka ruang diskusi dan kolaborasi yang lebih luas.

“Jawa Timur memiliki tantangan besar dengan jumlah penduduk yang besar, sehingga persoalan kemiskinan, pendidikan, dan sosial juga berskala besar. Hal ini membutuhkan upaya kolaboratif yang kuat dan terorganisasi,” ujar Kholaf.

Ia menegaskan bahwa PFI Chapter Surabaya terbuka bagi seluruh elemen ekosistem filantropi, mulai dari perusahaan, komunitas, NGO, lembaga zakat, hingga lembaga kemanusiaan. Kepercayaan yang diberikan Badan Pengurus PFI kepada Surabaya dinilainya sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

“Kami berharap Chapter Surabaya ini menjadi rumah bersama bagi seluruh pelaku filantropi di Jawa Timur. Ke depan, kami ingin memperbanyak ruang diskusi dan kolaborasi agar setiap ikhtiar yang dilakukan benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya. (q cox)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *