PemerintahanPeristiwa

Ribuan Jemaah Padati Balai Kota Surabaya, Serukan Persatuan dan Kesatuan

75
×

Ribuan Jemaah Padati Balai Kota Surabaya, Serukan Persatuan dan Kesatuan

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) – Gema takbir berkumandang mengiringi langkah ribuan jemaah yang memadati halaman Balai Kota Surabaya untuk melaksanakan ibadah Salat Idulfitri 1447 Hijriah, Sabtu (21/3/2026) pagi. Pelaksanaan salat yang rutin digelar oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya ini berlangsung khidmat di bawah langit pagi yang cerah.

Tepat pukul 06.00 WIB, salat dimulai dengan dipimpin oleh Ust. Muhammad Anwari, M.Pd., seorang Qori Nasional yang bertindak sebagai imam. Sementara itu, Prof. Abdul Kadir Riyadi, Lc., MSSC., Ph.D. hadir memberikan pesan-pesan spiritual dan kemanusiaan sebagai khatib.

Dalam sambutannya, Wali Kota Eri Cahyadi, menekankan bahwa persatuan adalah fondasi utama bagi kemajuan Kota Pahlawan. Ia berharap semangat kebersamaan yang terjalin selama Ramadan dan Idulfitri dapat diimplementasikan dalam kehidupan kerja dan sosial sehari-hari.

Wali Kota yang akrab disapa Cak Eri ini, juga menggarisbawahi bahwa kekuatan sebuah bangsa terletak pada kohesi sosialnya. Ia meminta warga untuk mengedampingkan ego pribadi demi kepentingan bersama.

“Persatuan itu lebih penting. Kita harus bekerja bersama, bukan bekerja sendiri-sendiri. Bukan mencari siapa yang mengejar popularitas atau siapa yang terbaik, tapi bagaimana dengan kebersamaan itu kita bisa mencapai hasil maksimal bagi bangsa dan negara,” tegasnya.

Lebih lanjut, Wali Kota Eri Cahyadi mengapresiasi tolenransi warga Surabaya dalam menyikapi perbedaan. Ia mencontohkan bagaimana perayaan Idulfitri tahun ini yang berdekatan dengan Hari Raya Nyepi berjalan sangat harmonis.

“Alhamdulillah, toleransi di Surabaya luar biasa. Kemarin saat Nyepi, warga yang merayakan takbiran di masjid menghormati umat Hindu dengan tidak menggunakan pengeras suara luar dan tidak mengadakan takbir keliling di sekitar tempat ibadah umat Hindu,” ungkapnya.

Terkait adanya perbedaan penetapan waktu Salat Id, Wali Kota Eri Cahyadi meminta agar hal tersebut tidak menjadi perdebatan yang memecah belah. Menurutnya, adanya perbedaan adalah hal yang lumrah dan harus dihargai.

“Ada yang salat kemarin, ada yang hari ini. Perbedaan itu adalah keindahan, jangan pernah saling menyalahkan. Keyakinan itu masing-masing, yang penting tidak saling menjatuhkan atau menjelekkan. Kita manusia tempatnya salah, maka tugas kita adalah saling mengingatkan dan menguatkan,” tambahnya.

Ia berharap, agar nilai-nilai toleransi dan akidah yang terjaga di Surabaya dapat terus ditingkatkan demi masa depan kota yang lebih baik.

“Inilah momentum yang harus kita jaga terus. Insyaallah dengan kerukunan ini, Surabaya menjadi kota yang berkah, kota sejahtera, dan warganya bahagia,” tandasnya.

Sementara itu, dalam khotbahnya, Prof. Abdul Kadir Riyadi menguraikan empat pilar misi kemanusiaan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW sebagai fondasi membangun bangsa dan peradaban. Ia menegaskan bahwa tanpa perdamaian, sektor pendidikan, ekonomi, hingga aktivitas perkantoran akan lumpuh.

“Marilah kita pastikan Kota Surabaya ini, menjadi kota yang meyebarkan virus-virus positif berupa kedamaian, ketentraman dan keamanan yang selamat ini sudah kita lihat di Surabaya dan harus terus ditingkatkan,” terangnya.

Ibadah Salat Idulfitri ditutup dengan sesi ramah tamah dan saling memaafkan antar jemaah, menciptakan suasana hangat di jantung Kota Pahlawan. (q cox)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *