NasionalPemerintahan

Stabilitas Sektor Keuangan Terjaga, OJK Optimistis Hadapi Tantangan Global 2026

77
×

Stabilitas Sektor Keuangan Terjaga, OJK Optimistis Hadapi Tantangan Global 2026

Sebarkan artikel ini

JAKARTA (Suarapubliknews) ~ Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) nasional tetap terjaga hingga akhir 2025, meski perekonomian global menghadapi perlambatan dan ketidakpastian. Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyampaikan bahwa ketahanan sektor keuangan menjadi fondasi penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026.

“Di tengah melandainya pertumbuhan ekonomi global dan meningkatnya risiko fiskal di sejumlah negara, sektor jasa keuangan Indonesia tetap stabil dan resilien, serta mampu mendukung momentum pertumbuhan ekonomi domestik,” ujarnya.

Dari sisi pasar modal, kinerja sepanjang 2025 menunjukkan tren positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 8.646,94 pada akhir Desember 2025, menguat 22,13 persen secara tahunan (yoy) dan mencatatkan 24 kali rekor all time high (ATH) sepanjang tahun. Kapitalisasi pasar saham nasional juga mencapai rekor tertinggi sebesar Rp16.005 triliun.

Likuiditas pasar turut menguat, tercermin dari Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) saham bulanan Desember 2025 yang mencapai Rp27,19 triliun, tertinggi sepanjang sejarah. OJK mencatat meningkatnya peran investor ritel domestik, dengan porsi transaksi naik menjadi 50 persen pada 2025 dari 38 persen di tahun sebelumnya.

Di sektor perbankan dan industri keuangan non-bank, OJK menilai kondisi tetap terjaga. Industri perasuransian mencatat total aset Rp1.194,06 triliun per November 2025 atau tumbuh 5,96 persen yoy, dengan tingkat permodalan yang kuat. Risk Based Capital (RBC) industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing berada di level 488,69 persen dan 342,88 persen, jauh di atas ambang batas minimum.

Sementara itu, sektor pembiayaan juga menunjukkan perbaikan. Piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan tumbuh 1,09 persen yoy menjadi Rp506,82 triliun, dengan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) tetap terkendali di level 2,44 persen.

Menanggapi dinamika global, Mahendra menyebut perbedaan arah kebijakan bank sentral dunia menjadi tantangan tersendiri. Pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve dan Bank of England, serta kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan, turut memengaruhi volatilitas pasar keuangan global.

“Namun, perekonomian domestik masih ditopang oleh inflasi yang terkendali, sektor manufaktur yang ekspansif, serta kinerja eksternal yang solid dengan neraca perdagangan tetap surplus,” katanya.

Ke depan, OJK menegaskan akan terus memperkuat stabilitas sistem keuangan sekaligus meningkatkan perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk melalui penguatan pembiayaan UMKM, pengembangan keuangan syariah, serta akselerasi inovasi keuangan digital yang berorientasi pada sektor riil.

Dengan fondasi sektor keuangan yang kuat dan kebijakan yang adaptif, OJK optimistis stabilitas ekonomi nasional dapat tetap terjaga dalam menghadapi tantangan global sepanjang 2026. (q cox, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *