Dorongan ke Jakarta Menguat, Risma Hanya Bisa Pasrah

SURABAYA (Suarapubliknews.net) –Belakangan, Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya (Risma) yang namanya terus menguat di kontestasi Pillgub DKI Jakarta 2017, terkesan semakin tidak kuasa untuk menolak apa yang bakal terjadi dengan rekom DPP PDIP.

Berbagai bantahan dan pernyataan penolakan yang disampaikan Risma melalui berbagai media, faktanya justru semakin menaikkan popularitasnya di DKI Jakarta.

Salah satu faktor yang menjadi pemicunya adalah sikap dan ucapan calon petahana Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) yang terkesan semakin kontra dengan PDIP sebagai satu-satunya partai yang bisa mengusung Bacakada tanpa bantuan partai lain alias tunggal.

Berbagai lembaga survey di Jakarta terus menyampaikan pemuthakhiran data, seiring dengan semakin dekatnya masa pendaftaran, yang belakangan dikabarkan ada penundaan. Yakni dibuka mulai tanggal 21-23 September 2016.

Belakangan beredar info jika besok Senin (19/9/2016) akan terjadi gerakan rakyat, baik yang ada di Kota Surabaya maupun di DKI Jakarta. Untuk Surabaya, akan diperingati peristiwa bersejarah yakni perobekan bendera bendera Belanda menjadi bendera “Merah Putih”, yang dikenal dengan *Insiden Hotel Yamato.

Sementara bagi rakyat DKI Jakarta, tanggal 19 September merupakan hari yang keramat karena merupakan tanggal terjadinya peristiwa rapat raksasa rakyat Jakarta di Lapangan Ikada (sekarang Lap Monas), yang dipimpin Bung Karno. Hanya saja masih belum jelas, akankah diikuti oleh kebijakan politik PDIP?

Namun banyak pihak yang memperkirakan bahwa tanggal ini dianggap merupakan hari yang baik untuk mengumumkan rekom Bacakada untuk Pilgub DKI Jakarta 2017. Benarkah?

Jika dikaitkan dengan Risma, hari ini Minggu (18/9/2016) yang merupakan hari libur nasional, secara mendadak Risma menggelar presscon di kediaman Wali Kota jl Sedap Malam Surabaya.

Kepada sejumlah wartawan, Risma kembali menyampaikan uneg-unegnya terkait posisi dirinya yang terus disebut-sebut sebagai calon kuat sebagai Bacakada dari PDIP di Pilgub DKI Jakarta 2017.

Terbaru, dia mengungkapkan, jika akhirnya nama Tri Rismaharini yang tertulis di rekom DPP PDIP untuk Bacakada Pilgub DKI jakarta 2017, maka diakui menjadi beban yang sangat berat bagi dirinya sekaligus bagi Megawati Soekarno Putri Ketum PDIP.

“Kalau ini benar-benar terjadi, maka ini sudah menjadi kehendak Tuhan, tak satu manusiapun bisa merubah, yang tentu berat bagi saya, bagi masyarakat Kota Surabaya juga bagi Bu Mega,” ucapnya, yang mulai terkesan pasrah.

Mengaku masih ingin di Surabaya, Risma berjanji tetap akan berupaya sekuat tenaga untuk bisa menghindari bahkan menolaknya untuk menjadi Bacakada di Pilgub DKI Jakarta 2017.

“Manusia itu bisanya hanya berusaha, makanya saya akan tetap berusaha sampai darah penghabisan, karena pada saat saya menolak tawaran menjadi menteri, ternyata juga di dengar oleh Bu Mega, saya yakin, soal ini juga akan didengar Bu mega,” janjinya. (q cox)

Reply