ITS Sabet Juara Umum Kompetisi Konstruksi Ramping di ITB

SURABAYA (Suarapubliknews) – Delegasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang diwakili oleh tim mahasiswa Departemen Teknik Sipil (DTS) berhasil memborong dua gelar juara pertama dalam perlombaan tahunan yang digelar oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) Kompetisi Konstruksi Ramping (K2R) 4.0.

Perwakilan tim Ascarya, Freedy Kristawan (S2, 2018) mengatakan perolehan juara pertama tersebut pada kategori Kinerja Total dan Pemborosan Minimal. Dengan perolehan dua juara pertama tersebut, menjadikan ITS dinobatkan sebagai juara umum.

Tim tersebut terdiri atas Zhafira Aulia KA (mahasiswa S1 angkatan 2016), Davin Atmaja L (S1, 2017), William Bunkharisma (S1, 2017), M Arif Ramapramudya (S1, 2018), Alfya Natasya D (S1, 2018), Erfandi Zen V (S2, 2019), dan Freedy Kristawan (S2, 2018).

Tergabung dalam tim Ascarya, ketujuh mahasiswa ini harus bersaing ketat dengan peserta lain untuk merancang dan memproses purwarupa konstruksi dengan material utama lego (mainan bongkahan plastik kecil yang dapat dirancang menjadi apa saja, red).

“K2R 4.0 merupakan kompetisi dengan fokus penerapan lean construction (konstruksi ramping). Dalam penerapannya menekankan pada efisiensi kinerja total dan pemborosan minimum dari suatu konstruksi. Acara yang digelar rutin setiap tahunnya sejak 2016 ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia mengenai konstruksi ramping itu sendiri,” katanya.

Dalam lomba ini tim mereka dibagi menjadi dua posisi. Satu orang bertindak sebagai kontraktor utama, sementara enam rekannya yang lain menjadi subkontraktor. Freedy dan tim diberikan gambar desain yang akan diproses secara collaborative pull planning (proses kolaborasi untuk mencari rencana penjadwalan oleh seluruh peserta). Dalam hal ini juga harus membuat rancangan kegiatan purwarupa bangunan berdasarkan rencana tersebut.

Selanjutnya, mendata kebutuhan material dan membeli material yang diperlukan. Serta tidak lupa memasang material lego yang ada hingga purwarupa berhasil diwujudkan. Terakhir tapi tak kalah penting, kinerja total, waste material (lego yang berlebih saat pemesanan atau tidak terpasang), error pemasangan, serta pelanggaran lain yang telah ditentukan pun dihitung oleh tim Ascarya.

Inovasi yang dilakukan tim yang diketuai oleh Zhafira ini ialah saat pemasangan layer, di mana tim melakukannya dengan cepat dan tepat. Bahkan menurut Freedy, tidak ada waste material yang dihasilkan konstruksi rancangan Ascarya. Hal ini juga terjadi lantaran mereka tidak mengerjakan konstruksi per lapisan, melainkan memaksimalkan jumlah lantai yang dapat dikerjakan. Sehingga tim berhasil menyelesaikan tiga lantai dalam sekali pengerjaannya.

Freedy menambahkan bahwa koordinasi merupakan hal terpenting dalam peraihan juaranya tim ini. Sebelum memesan material, mereka melakukan pengecekan internal antara tujuh personel dengan jumlah lego yang akan dipasang. “Sehingga pada akhirnya kami berhasil merancang satu konstruksi yang terdiri dari sepuluh tingkat (lantai, red),” pungkasnya.

Sementara itu, Cahyono Bintang Nurcahyo ST MT selaku dosen pembimbing tim menyatakan bahwa dirinya sangat bersyukur atas raihan juara umum Ascarya. Dosen Teknik Sipil ini mengungkapkan, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja keras dan komitmen tim yang telah melalui seleksi dan latihan intens selama dua bulan terakhir. “Saya mengapresiasi semangat dan perjuangan mereka meraih hasil terbaik tahun ini,” tuturnya. (q cox, Tama Dinie)

Reply