Kembangkan Health Apps & Startup Technology, Dr. Niko Azhari Hidayat Berharap Dukungan Pemerintah

SURABAYA (Suarapubliknews) – Di era digital saat ini, kebutuhan apapun sudah dapat diakses melalui Start Up dan Applikasi, termasuk untuk mengenali sejak dini gejala penyakit pasien agar tidak kian fatal dengan resiko tindakan operasi.

“Padahal, kalau penyakitnya diketahui lebih awal, bisa belum harus atau perlu operasi,” ujar Dr. Niko Azhari Hidayat SpBTKV(K)VE FIHA, Founder Vascular Indonesia. Senin (24/06/2019) kemarin.

Dr. Niko Azhari Hidayat SpBTKV(K)VE FIHA adalah dosen fakultas kedokteran UNAIR yang bertugas sehari-hari di RS Universitas Airlangga, yang kini telah berhasil merintis tehnologi kesehatan (Healthtech).

Kini dia mengajak seluruh penggiat start up dan aplikasi yang fokus di bidang kesehatan untuk berkolaborasi dalam satu acara Health Apps & Startup Technology Airlangga Generation 1.0(#HASTAG1.0).

Inovasi Dr. Niko Azhari Hidayat SpBTKV(K)VE FIHA ini muncul karena pengalaman pribadinya yakni mendapatkan pasien yang terlambat mengidentifikasi penyakitnya, karena pasien sulit mendapatkan berbagai informasi perihal kesehatan.

”Saya ingin kita bersama2 menyelamatkan lebih banyak orang Indonesia yang menderita penyakit melalui peningkatan Digitalisasi Kesehatan, dimulai dari Surabaya Jawa Timur”. Lewat aplikasi kesehatan yg terpadu, pasien yang tidak punya waktu untuk berkonsultasi langsung dengan dokter bisa belajar sendiri tentang segala macam hal terkait berbagai penyakit. Saya ingin masyarakat lebih pintar mendeteksi dini penyakitnya,” tandasnya.

Maka, melalui event bernama HASTAG 1.0 yang turut dihadiri dr. Gregorius Bimantoro (PROSEHAT), dr.Rahadian (Brain Tumor Indonesia), dan dr. Irwan (HALODOC), dr Niko selaku penggiat acara ini berharap peran serta para professional starup aplikasi kesehatan seperti AloDokter Halodoc, Docquity, Prosehat, Healthtech.id, Klik Hospital, Brain Tumor Indonesia, Support Circle Indonesia, Inmed, dan Edudok.

Saat ini, dr Niko telah memiliki 3 Brand yakni Varises Indonesia, AV Shunt Indonesia & Kaki Diabet Indonesia. Karena masih banyak lagi, kini dr Niko ingin mengkolaborasikan keahliannya masing masing dalam mengeksplore informasi kesehatan melalu aplikasi yang sangat mudah di jangkau masyarakat, di era digitalisasi.

“Jadi nantinya tak hanya infomasi kesehatan soal varises saja, tapi juga jenis penyakit lainnya, termasuk disitu juga aka nada referensi obat untuk penanganan gejala penyakit yang dialami, karena di aplikasi tersebut juga ada ahli farmasi/ apoteker,” katanya.

Dia berharap kegiatan ini bisa berkelanjutan menarik para penggiat start up & app bidang kesehatan untuk bisa berkolaborasi menjadi lebih besar, karena akses kesehatan masih dirasa sangat kurang.

Menurut dia, pengembangan Digital Health akan bisa memutus rantai Panjang pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya Jawa Timur. Dan peran pemerintah propinsi maupun kota bisa tergerak untuk terbuka dalam program Social Impact untuk masyarakat Jawa Timur.

“Agar masyarakat lebih mudah mendapatkan akses dan informasi bidang kesehatan melalui digital, yang juga bisa berkonsultasi secara langsung soal kesehatan ditengah kesibukan masyarakat yang tidak bisa meluangkan waktu untuk berkonsultasi secara gratis,” tuturnya.

Untuk itu, dr.Niko Azhari juga berharap agar sustainabilitas program dan semangat penggiat healthtech mendapat respon yang positif dari Pemerintah.

“Seiring dengan program Pemerintah dalam Digitalisasi Kesehatan serta memperkuat landasan Smart City yang sekaligus Healthy, Smart & Healthy City,” pungkasnya. (q cox)

Reply