Kesuksesan Risma Memimpin Surabaya, Memantik Penasaran Awak Media di Jakarta

JAKARTA (Suarapubliknews) – Ada momen menarik ketika acara Rakernas I dan HUT ke-47 PDI Perjuangan yang berlangsung di JlExpo Kemayoran Jakarta, Sabtu (11/1/2020).

Kedatangan Ketua DPP PDI Perjuangan, Bidang Kebudayaan, Tri Rismaharini, seperti memantik penasaran para pewarta. Mereka pun terlihat terus memantau gerakan orang nomor satu di jajaran Pemkot Surabaya ini untuk mendapatkan sebuah informasi ataupun berita.

Memang benar, jika nama Wali Kota Risma cukup terbilang populer di Jakarta. Bahkan, berbagai prestasi dan kesuksesan Risma selama memimpin Kota Surabaya, mendapat apresiasi tersendiri dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarno Putri.

Kendati demikian, di sela mengunjungi stand pameran rempah-rempah nusantara, perempuan yang juga menjabat Wali Kota Surabaya inipun kemudian menyempatkan diri untuk melayani doorstop (wawancara) dengan  awak media.

Namun, dari beberapa pertanyaan yang dilontarkan awak media itu, ada satu hal yang sangat menarik. “Kalau warga Jakarta entar membutuhkan Ibu, bagaimana Bu?,” tanya salah seorang pewarta.

Secara tak langsung, pertanyaan yang dilontarkan pewarta ini pun berhubungan dengan Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta pada 2022 mendatang. Hal ini merujuk pada masa jabatan Wali Kota Surabaya yang bakal berakhir di akhir tahun 2020.

Dengan santai, Risma pun menjawab pertanyaan yang dilontarkan awak media itu. Ia mengaku akan menyerahkan semua itu kepada Tuhan.

“Nanti itu Tuhan yang akan mengatur segala hidup saya, semua saya serahkan kepada Tuhan hidup saya,” kata Risma.

Karena, bagi Risma, selama ini pantang untuk meminta jabatan. Karena di jabatan itu terkandung berbagai resiko. “Dimana saya harus adil, dimana saya harus amanah, kalau dalam agama ‘fatonah’ dan sebagainya. Jadi itu berat, saya tidak pernah membayangkan,” tuturnya.

Apalagi, ia juga tidak mau jika dalam jabatan itu terkandung nafsu kekuasaan. Karena itu, Ia mengaku akan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. “Karena tadi saya sampaikan, saya tidak mau kemudian kalau di dalamnya (jabatan) ada nafsu kekuasaan, karena itu berat,” tuturnya.

Menurutnya, jabatan politik adalah tugas yang sagat berat. Risma pun berkaca pada pengalamannya memimpin Kota Surabaya selama hampir 10 tahun terakhir.

Maka dari itu, ke depan, ia mengaku, akan menjalani karir politiknya dengan cara mengalir. Meskipun tahun depan sudah tidak lagi menjabat Wali Kota Surabaya.

Apalagi, menurut dia, tidak ada gunanya menjadi gubernur ataupun presiden, jika nantinya masih ada rakyat yang miskin. “Kemudian sedikit rasa terbersit saya, tiba-tiba saya dicoba misalkan menemukan ada orang (miskin) tak bisa berobat. Makanya saya tidak pernah membayangkan,” jelasnya. (q cox, and)

Reply