Liponsos Overload Hingga 71%, Komisi D DPRD Surabaya Petakan Anggaran untuk Fasiltas dan Bangunan

SURABAYA (Suarapubliknews) – Overload nya pondok sosial (Liponsos) Keputih Surabaya yang mencapai sekira 71%, mendapat perhatian penuh Komisi D DPRD Surabaya karena sudah jauh melewati batas kapasitas ideal

Dikatakan Ketua Komisi D DPRD Surabaya, Khusnul Khotimah, bahwa kondisi barak C sudah sangat memprihatinkan karena atapnya yang jebol dan lantai berlubang. Oleh karena itu Komisi D memprioritaskan kondisi bangunan yang berdiri sejak 1996 tersebut.

“Memang di TA 2020 belum ada perencanaan pembangunan, tapi kita minta sama komisi untuk menghitung kebutuhan dan desain yang diinginkan termasuk sinitasi untuk penyandang penyakit TB,” ucap Khusnul. Selasa (14/01/2019)

Menurut Politisi perempuan PDIP ini, banyak hal yang harus dilakukan untuk bangunan Liponsos, meski banyak penghuni yang ternyata bukan dari Surabaya, tapi banyak warga asal luar kota.

“Makanya kita mendorong komunikasi dengan Dinas Sosial Provinsi dan Dinas Sosial Kab/ Kota yang warganya ada di liponsos kita,” tandasnya.

Khusnul menjelaskan jika di TA 2020 memang tidak ada anggaran untuk pembangunan Liponsos, namun ia tetap meminta kepada anggotanya agar memberikan perhatian lebih agar bisa dijadikan atensi dinas terkait.

“Barak C ini menjadi sangat penting karena itu akan digunakan ODGJ perempuan sehingga butuh penanganan cepat. Mudah-mudahan PAK mereka sudah ada desain dan ada persiapannya dan pak bisa dibahas lebih awal dan itu sudah kita garais bawahi tegas bahwa ini menjadi atensi Komisi D,” jelasnya.

Saat hearing dengan Komisi D DPRD Surabaya, Suharto Wardoyo Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya, mengatakan jika di Lipinsos Keputih ada 1027 orang, denganrincian ODGJ 878 orang, gepeng 57 orang, lansia 70 orang, anak jalanan 17 orang, prse 4 orang terlantar 1 orang. Ada juga yang di rawat inap dari jumlah penghuni 125 orang, di RS Menur 43 orang, RSJ lawang 82 orang.

Padahal, kata Suharto, Ideal dari jumlah penghuni Liponsos Keputih adalah 600 orang, namun hasil operasi penertiban PMKS oleh Satpol PP, tak sedikit gelandangan hingga pengemis yang langsung ditampung di Liponsos Keputih

“Ini salah satu penyebab Liponsos menjadi over kapasitas. Namun Liponsos tetap berusaha menyembuhkan, bahkan setelah pengobatan dan ditemukan identitas kependudukan atau keluarga akan langsung dikembalikan/dipulangkan” kata Suharto yang akrab disapa Nanang ini.

Nanang mengatakan jika selama ini Dinas Sosial Jatim dan Surabaya juga melakukan verifikasi data kependudukan. Apabila sudah diketemukan data kependudukannya, mereka dipulangkan ke daerah asal masing-masing. “Sedangkan gangguan jiwa akan diberikan pengobatan,” kata dia.

Tidak hanya itu, ternyata Liponsos Keputih juga mendapati banyak pasien pengidap HIV/AIDS. Pada tahun 2019 terdapat 25 orang pengidap HIV/AIDS dari warga Surabaya (Kembang Kuning dan Jagir), Probolinggo, Jember, Lumajang, Jombang dan Lamongan.

Dan untuk perawatan agar tidak bertambah parah, Liponsos Keputih memberikan obat ARV yang diambil dar RS Dr Soetomo dan diminumkan. “Yang kena HIV harus meminum obat HIV setiap hati, nggak boleh telah. Kalau telat harus mengulangi lagi dari awal,” kata Kepala UPT Liponsos Keputih, Sugianto

Selain itu, dari hasil evaluasi sejak 2018 lalu, Liponsos telah menerapkan terapi musik kepada pengidap ODGJ untuk merangsang ingatan. Tapi tak hanya musik, ada pula bacaan surat dari setiap keyakinan menjadi efektif di samping obat-obatan.

“Karena ada musik mereka semangat untuk mengingat kembali dimana mereka asalnya dan orang tua bisa diketahui. Terapi musik didampingi oleh dokter dari RS Menur. Cukup efektif di samping obat juga musik kata dokter RS Menur,” jelasnya.

Terkiat infrastruktur, Sugianto menjelaskan, jika pada mulai tahun 2017 lalu sudah dibangun gedung dan tinggal satu barak, yaitu baran C belum terehap.

“Barak A,B,D dan E sudah direhap, tinggal barak C yang masih banyak lantainya yang tergenang air. Rencana dari Cipta Karya itu diambilkan dari anggaran PAK,” pungkasnya. (q cox)

Reply