Miliki Filosofi Mendalam, ICATI Gelar Workshop Bahasa Mandarin

SURABAYA (Suarapubliknews) – Overseas Community Affairs Council bersama, Ikatan Citra Alumni Taiwan Indonesia (ICATI) Jatim, dan Universitas Kristen Petra kembali workshop Bahasa Mandarin yang diikuti para guru dan dosen yang mengajar Bahasa Mandarin.

Direktur TETO, Benson Lin mengatakan pelajaran Bahasa Mandarin memiliki filosofi dan arti yang mendalam. “Program workshop kali ini dapat menambah pengetahuan dan ketrampilan dalam mengajar bahasa Mandarin untuk generasi muda di Indonesia,” katanya.

Wakil Ketua ICATI Jatim, Henry Samuel Tanuwijaya mengungkapkan workshop diadakan rutin setiap tahun dan telah dimulai sejak tahun 2000. Workshop kali ini diikuti sekitar 85 guru Bahasa Mandarin se-Jatim bertujuan mengenalkan budaya dan Bahasa Mandarin sekaligus membuka peluang baru dan transfer ilmu di berbagai bidang, guna mendukung pembangunan perekonomian Indonesia.

“Kita dapat menimba ilmu dan nilai positif dari para guru Taiwan yang mengajar guna menambah skill dan membuka jendela baru pengetahuan buat para guru mandarin di Indonesia sehingga ke depannya dapat memberi kontribusi untuk masyarakat, bangsa dan negara. Bahasa Mandarin perlu dipelajari agar tidak tertinggal dari Negara lain,” ungkapnya.

ICATI adalah organisasi sosial yang beranggotakan alumni pelajar dari Taiwan, kemudian pulang ke tanah air untuk berkarya, transfer ilmu dan memberikan sumbangsih kepada masyarakat dan negara.

Dua pengajar asal Taiwan yakni Laoshi Lin Rongqin dan Laoshi Chen SongLin dalam workshop membawakan materi pengajaran Bahasa Mandarin berkonteks bisnis. “Banyak istilah bisnis yang perlu diketahui untuk berkomunikasi, bernegosiasi yang ke depannya bisa diajarkan para guru kepada muridnya setelah mengikuti pelatihan ini,” jelas Henry.

Salah satu dosen UK Petra yang menjadi peserta workshop mengakui telah mengikuti pelatihan sejak tahun 2010 hingga kini. Baginya pelatihan Bahasa Mandarin yang diadakan ICATI Jatim sangatlah penting karena banyak kerjasama yang dilakukan Indonesia dan Taiwan.

“Setiap pelatihan yang diadakan setiap tahun berbeda pokok bahasan. Tahun lalu bagaimana mengajar Bahasa Mandarin dengan teknologi digital. Dan pada tahun-tahun sebelumnya lebih banyak mengajar dengan buku. Para dosen Taiwan ini memperkenalkan cara mengajar terbaru yang bisa diterapkan para guru di Indonesia,” ungkapnya. (q cox, Tama Dinie)

Reply