Pagelaran Wayang Modern Ala Mahasiswa UK Petra

SURABAYA (Suarapubliknews.net) – Wayang dan overhead projector (OHP) adalah dua benda yang mungkin tidak menarik bagi generasi sekarang. Bahkan mereka mungkin tidak menganal apa itu OHP.

Namun 13 mahasiswa Program English for Creative Industry (ECI) Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya mengkolaborasikan keduanya menjadi tontonan yang kreatif dan menarik.

Dosen mata kuliah Theatrical Desain UKP Stefanny Irawan mengatakan sebagai suatu bentuk teknologi lama, overhead projector memang memiliki keterbatasan, tapi bukan berarti dia usang dan percuma.

“Justru keterbatasan tersebut bisa memunculkan kreativitas para penggunanya untuk menciptakan sesuatu yang memukau bahkan untuk ukuran zaman sekarang,” katanya.

Project Ujian Akhir Semester (UAS) kelas mata kuliah Theatrical Desain ini adalah salah satu bentuk pembelajaran yang baru dan aplikatif. Mahasiswa diminta untuk menguasai tidak hanya desain bentuk, namun juga prinsip tata cahaya yang pas.

“Mahasiswa juga harus memahami teknik menampilkan efek yang mereka mau sesuai dengan ceritanya. Semuanya harus selaras dan memiliki kesatuan artistik,” lanjut Stefanny.

Para mahasiswa memilih sendiri cerita rakyat yang akan ditampilkan dan mengerjakan segala persiapan yang dibutuhkan. Dibagi menjadi empat kelompok, mereka akan memainkan empat cerita rakyat Indonesia yaitu Legenda Batu Menangis, Legenda Danau Toba, Roro Jonggrang dan Keong Mas.

Penampilan wayang modern berdurasi 10 menit dan disajikan dalam bahasa inggris. Masing-masing kelompok akan menyajikan tampilan yang mendetail meski hanya dengan menggunakan bahan sederhana seperti plastik mika dan kertas.

Perwakilan kelompok yang mengangkat Legenda Batu Menangis, Jessica Azalea mengatakan tugas kali ini sangat menantang. Sulit sebab menuntut daya kreativitas. Yang paling sulit saat memastikan bayangannya pas saat ditampilkan di layar OHP.

“Prosesnya cukup lama, setelah project akhir diumumkan, kami segera mencari ide dari berbagai sumber. Ada tahapan yang harus kami siapkan mulai dari menulis naskah, membuat storyboard, merancang slide yang dibutuhkan hingga berlatih. Setiap hari selama dua minggu lamanya kelompok kami konsentrasi menyiapkan puppet ini,” akunya.

Ditambahkan Stefanny kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk mengembalikan daya tarik budaya nasional di mata bangsa Indonesia. Disadari atau tidak, pesatnya perkembangan teknologi membuat hal-hal yang ketinggalan zaman menjadi dianggap tidak keren.

“Cerita rakyat ini salah satunya, dianggap cerita anak-anak yang tidak lagi menarik untuk diingat ketika kita dewasa. Sebagai bangsa yang kaya budaya, kita tidak boleh membiarkan hal ini terjadi. Semoga dengan hadirnya kisah-kisah rakyat Indonesia melalui pendekatan yang unik ini, kita semua khususnya generasi muda, tidak akan melupakan budaya Indonesia,” tutupnya. (q cox, Dn)

Reply