Risma, Pilgub DKI Jakarta dan Angka 1 Persen

SURABAYA (Suarapubliknews.net) – Tri Rismaharini gigih ingin bertahan di Kota Surabaya untuk menunaikan amanah yang diberikan setelah memenangi Pilkada Surabaya pada bulan Desember 2015. Bersama Whisnu Sakti Buana, Risma mutlak mengantongi lebih 86 Persen suara.

Namun setelah enam bulan dilantik, Risma dibuat keki dengan desakan kuat yang mendorong dirinya untuk ikut meramaikan Pilgub Dki Jakarta melawan petahan Basuki T Purnama alias Ahok.

Rekomendasi dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri memang masih belum ada. Namun, sebagian menyakini jika Megawati lebih memilih Risma sebagai calon Gubernur yang diusung daripada AHok yang telah tegas menolak menjadi kader partai banteng moncong putih.

Perlawanan arus bawah maupun di internal PDI Perjuangan pun menguat. Isu sentral yang ingin disampaikan ke Megawati adalah penolakan Ahok. Di balik itu semua, memang masih ada keraguan jika Ahok tidak mendapat tiket dari Megawati.

Upaya mencegah Megawati “Jatuh Hati” ke Ahok pun digeber habis. Deklarasi dari kelurahan-kelurahan semakin agresif. Begitu pula pernyataan pedas dari elit yang ditujukan ke Ahok semakin membabi buta.

Desakan Megawati mengusung Risma sebagai calon gubernur DKI pun tak terbendung. Sejumlah suvei iku meramaikan rimba belantara isu pilgub. Risma yang belum pernah menyatakan kesanggupannya ke Jakarta, popularitas dan elektabilitasnya melambung, pergerakan Ahok disebut-sebut stagnan.

Sekali lagi Risma tidak ambil pusing. Tidak tergiur dengan perolehan hasil survei yang trennya menanjak. Risma bergeming. Keinginan di Surabaya tetap kuat meski warga Jakarta sudah memanggilnya.

Diplomasi politik Risma cukup piawai. Penegasan tidak ke Jakarta disampaikan secara terbuka saat dirinya mampir ke SDN Sumberrejo 2 di Kecamatan Pakal. Saat itu pelajar menangisinya dan Risma janji tidak ke Jakarta.

Risma dikenal sebagai sosok ibu yang sangat peduli dengan generasi muda akan masa depannya. Setiap kesempatan, tak henti-hentinya selalu mensemangati para pelajar agar tak lelah belajar mengejar cita-cita setinggi-tingginya. Tak lupa Risma selalu menekankan pentingnya disiplin dan kejujuran.

Jika Risma sudah janji tidak akan ke Jakarta kepada anak-anak, akankah di kemudian hari Risma akan mengingkarinya sendiri tat kala rekomendasi dari Megawati harus jatuh kepadanya.

Bagimanapun, Risma yang belum lama ini menjadi kader PDI Perjuangan sangat sayang dan hormat kepada Megawati. Kegemaran akan pentingnya tanaman bagi kehidupan menjadi perekat keduanya. Risma bisa dikatakan sebagai anak yang hormat dan patuh kepada sang ibunda.

Sikap Risma akan kepatuhannya sebagai seorang ibu dan anak masih menjadi misteri bilamana rekomendasi sudah diputuskan. Jika melihat diamnya Megawati selama ini juga menjadi misteri.

Megawati tentu melihat bahwa Risma memiliki karir politik yang masih panjang. Risma yang polos, tak ambisius dan selalu memilih mengalir sesuai pilihan yang divonis oleh Tuhan tak hanya akan ‘habis’ di Surabaya.

Sikap Risma yang tak peduli dengan hingar bingar politik diam-diam menjadi magnet bagi publik. Pilihannya untuk bekerja melayani masyarakat Kota Surabaya telah menjadi contoh kepala daerah lain ataupun menjadi pola kepala daerah yang seharunya dilakukan di semua daerah di negeri ini.

Peluang Risma untuk tetap bertahan di Surabaya sebagai Wali Kota Surabaya bisa disebut mampu mencapai 99 Persen. Risma tetap bekerja di Surabaya juga tak bisa ditawar.

Namun misteri 1 Persen tidak bisa dikerdilkan. Risma beberapa kali menyampaikan ke publik bahwa dirinya mempasrahkan jalan hidupnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Ke mana jalan hidupnya, bagi Risma itu adalah takdir.

Akankah takdir memnentukan Risma tetap bersama warga Surabaya membangun kota dan mensejahterkan rakyatnya? Penulis: Ir. Heri Dwi Wahyudi

Reply