SURABAYA (Suarapubliknews) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengajak masyarakat memperkaya menu keluarga dengan protein ikan sebagai bagian dari penerapan pola makan sehat dan seimbang selama Ramadan 2026. Selain memiliki nilai gizi tinggi, ikan juga mudah diolah menjadi beragam hidangan sahur dan berbuka yang lezat, praktis, serta ramah bagi anak-anak.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, Antiek Sugiharti, menegaskan bahwa momentum Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk memperkenalkan variasi sumber protein kepada masyarakat. Menurutnya, ikan bukan sekadar alternatif, melainkan dapat menjadi pilihan utama protein keluarga.
“Kami ingin mengajak masyarakat melihat ikan bukan hanya sebagai pilihan kedua, tetapi sebagai sumber protein yang sehat, segar, dan bernilai gizi tinggi. Ini bagian dari edukasi pola konsumsi seimbang,” kata Antiek, Kamis (26/2/2026).
Ia memastikan ketersediaan bahan pangan selama Ramadan 2026 dalam kondisi aman dan terkendali. Pasokan ikan di pasar tradisional maupun sentra perikanan relatif stabil sehingga masyarakat memiliki banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
“Ketersediaan bahan pangan tercukupi. Kami juga mendorong warga memanfaatkan potensi perikanan yang melimpah sebagai sumber protein keluarga. Ini sekaligus membantu menjaga keseimbangan belanja rumah tangga tanpa mengurangi kualitas gizi,” jelasnya.
Antiek menambahkan, capaian tersebut sejalan dengan prestasi Surabaya yang pada 2024 berhasil meraih penghargaan sebagai kota dengan angka konsumsi ikan tertinggi. Menurutnya, keberhasilan itu menjadi motivasi bagi Pemkot Surabaya untuk terus menguatkan edukasi dan kampanye gemar makan ikan di tengah masyarakat.
Ajakan tersebut juga sejalan dengan Gerakan Gemar Makan Ikan yang terus digencarkan Pemkot Surabaya, selaras dengan program Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. “Kampanye ini menyasar seluruh jenjang usia, mulai dari anak PAUD hingga SMA, serta menyentuh para ibu, khususnya yang memiliki balita dan anak berisiko stunting,” imbuhnya.
Edukasi diberikan melalui pelatihan pengolahan ikan menjadi menu yang lebih menarik dan mudah dikonsumsi anak-anak. Selama ini, sebagian anak kurang menyukai ikan karena duri yang menyulitkan. Karena itu, ikan diolah menjadi bentuk lain seperti bakso ikan, nugget, abon, dimsum, hingga sempol berbahan lele, sehingga lebih praktis dan diminati.
“Ikan memiliki kandungan protein tinggi, omega-3, vitamin, dan mineral yang sangat baik untuk pertumbuhan serta perkembangan otak anak. Jika diolah dengan kreatif, anak-anak justru akan menyukainya,” tuturnya.
Pemkot Surabaya juga berkolaborasi dengan PKK menghadirkan pelatihan memasak bersama chef dan menggelar lomba kreasi menu berbasis ikan. Resep-resep terbaik kemudian dihimpun dan dibagikan kembali kepada para ibu untuk dipraktikkan di lingkungan masing-masing.
“Ikan yang dikonsumsi tidak harus mahal. Ikan air tawar seperti lele, nila, mujair, maupun gurami dapat diolah menjadi hidangan bergizi tinggi. Produk olahan beku seperti pepes ikan dan aneka menu siap masak pun kini semakin mudah ditemukan, sehingga praktis bagi keluarga,” terangnya.
Bulan Ramadan, lanjutnya, bukan hanya momentum meningkatkan ibadah, tetapi juga memperkuat kepedulian terhadap kesehatan keluarga dan ekonomi lokal. Dengan memperbanyak konsumsi ikan, masyarakat tidak hanya mendapatkan manfaat gizi, tetapi juga ikut mendukung sektor perikanan.
“Harapannya, angka konsumsi ikan di Surabaya terus meningkat. Jika anak-anak terbiasa makan ikan sejak dini, kita sedang menyiapkan generasi yang lebih sehat, kuat, dan cerdas di masa depan,” pungkasnya. (q cox)












