BANDUNG (Suarapubliknews) ~ Dosen Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Adi Buana (UAB) Surabaya, Dr. Ika Ismurdiyahwati, M.Sn turut ambil bagian dalam pameran seni rupa bertajuk Nawasena yang berlangsung di Sanggar Olah Seni (SOS), Babakan Siliwangi, Bandung, pada 1–7 Juni 2026.
Pameran yang dibuka Anggota Komisi X DPR RI Melly Goeslaw tersebut menghadirkan lima perupa dari berbagai perguruan tinggi dan institusi seni di Indonesia, yakni Dr. Ika Ismurdiyahwati, M.Sn (UAB Surabaya), Dr. Supriatna, M.Sn (ISBI Bandung), Prof. Dr. Ariesa Pandanwangi, M.Sn (Universitas Kristen Maranatha Bandung), Dr. Wanda Listiani, M.Ds (ISBI Bandung), serta Prof. Dr. Sri Rustiyanti, M.Sn (ISBI Bandung).
Dalam pameran tersebut, Ika menampilkan tiga karya bertajuk Transformation, Jeratan, dan Transformations yang mengangkat isu limbah konsumsi dan sampah perkotaan melalui pemanfaatan berbagai material bekas seperti kemasan plastik dan kaleng minuman.
Ika mengatakan karya-karya tersebut lahir dari kegelisahannya terhadap meningkatnya jumlah limbah kemasan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat urban. “Melalui karya ini saya ingin mengajak masyarakat melihat kembali bagaimana produk yang dikonsumsi setiap hari meninggalkan jejak berupa limbah. Di sisi lain, material yang dianggap tidak bernilai masih memiliki peluang untuk diolah dan diberi makna baru,” ujarnya.
Menurut Ika, sampah tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari fenomena sosial yang perlu mendapat perhatian bersama. Karena itu, berbagai material bekas dalam karyanya diolah kembali menjadi medium artistik yang mengajak publik melakukan refleksi terhadap pola konsumsi masyarakat modern.
Pameran Nawasena sendiri menjadi ruang bagi para seniman untuk menampilkan hasil riset artistik yang berkaitan dengan sejarah antropologi dan perkembangan sosial budaya masyarakat urban. Setiap perupa mengangkat isu yang berbeda melalui pendekatan visual yang beragam.
Anggota Komisi X DPR RI Melly Goeslaw yang membuka pameran tersebut mengapresiasi karya-karya para seniman yang dinilai tidak hanya menghadirkan nilai estetika, tetapi juga menyampaikan pesan sosial dan budaya kepada masyarakat.
Sementara itu, kurator pameran Rahmat Jabbaril menjelaskan bahwa karya Ika berangkat dari temuan sehari-hari terkait melimpahnya limbah kemasan di ruang publik. Material-material tersebut kemudian ditransformasikan menjadi karya kolase, anyaman, dan instalasi yang menawarkan perspektif baru mengenai hubungan manusia dengan lingkungan.
Melalui pendekatan tersebut, karya Ika tidak hanya menjadi media ekspresi artistik, tetapi juga sarana refleksi terhadap persoalan keberlanjutan dan budaya konsumsi. (feb, tama dini)












