Pemerintahan

TPP PKK Surabaya Bentengi Anak dari Bahaya Judol hingga Cyberbullying

82
×

TPP PKK Surabaya Bentengi Anak dari Bahaya Judol hingga Cyberbullying

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) – Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, menegaskan pentingnya literasi digital bagi para ibu sebagai benteng pertama dalam melindungi anak dari berbagai ancaman di dunia maya. Ancaman tersebut tidak hanya berupa konten negatif, tetapi juga praktik berbahaya seperti judi online (judol), pinjaman online (pinjol), hingga perundungan di dunia maya atau cyberbullying.

Menurutnya, di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan penggunaan gawai oleh anak-anak, peran ibu tidak lagi hanya sebatas pengasuhan konvensional di rumah. Para orang tua, khususnya ibu, juga dituntut memahami perkembangan dunia digital agar dapat mengawasi, membimbing, sekaligus memastikan anak menggunakan gadget secara aman.

“Literasi digital itu penting. Literasi digital sebenarnya kepedulian seorang ibu kepada anak-anaknya, kepada keluarganya. Bagaimana menggunakan gadget sesuai dengan kemampuannya dan sesuai dengan umurnya,” kata Bunda Rini, Jumat (13/3/2026).

Untuk memperkuat edukasi tersebut, Bunda Rini menjelaskan bahwa TP PKK Surabaya menjalin kolaborasi dengan sejumlah perangkat daerah (PD), seperti Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (DP3APPKB).

Melalui kerja sama tersebut, TP PKK Surabaya menggelar program parenting Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) yang dilaksanakan hingga tingkat kelurahan dan RW. “Kita berkolaborasi dengan dinas terkait, salah satunya di DP3APPKB. Kita mengadakan parenting Puspaga di masing-masing RW,” ungkap Bunda Rini.

Dalam program tersebut, para ibu mendapatkan berbagai materi penting yang berkaitan dengan ancaman di ruang digital, seperti judi online dan pinjol. “Jadi kita beri edukasi lebih kepada ibu-ibunya,” tuturnya.

Selain itu, TP PKK Surabaya juga menjalankan program KILAS (Keluarga Indonesia Lindungi Anak dari Kekerasan Seksual). Program ini berfokus pada upaya pendampingan terhadap anak agar terhindar dari berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan yang terjadi melalui media digital.

“Kita juga ada Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH). Dimana kita memberikan materi kepada orang tua, salah satunya bagaimana menggunakan gadget yang baik untuk anak usia 0 sampai 6 tahun,” jelasnya.

Bunda Rini menyampaikan bahwa program literasi digital telah menjangkau ribuan warga Surabaya. Melalui program tersebut, ia berharap  semakin banyak orang tua yang mendapatkan pemahaman tentang pentingnya pendampingan anak dalam penggunaan teknologi digital.

“Ada di 2.400 RW yang sudah kita datangi. Jadi mereka sudah mendapatkan edukasi para orang tuanya. Karena sekarang itu yang perlu diedukasi bukan hanya anaknya, tapi orang tuanya juga penting,” katanya.

Tak hanya menyasar orang tua yang memiliki anak usia dini, TP PKK Surabaya juga mengembangkan program KEMANGI (Kelas remaja-orang tua tangguh, kreatif dan mandiri). Program ini difokuskan pada keluarga dengan anak remaja, untuk memperkuat komunikasi dan pendampingan antara orang tua dan anak dalam menghadapi tantangan dunia digital.

“Jadi orang tua yang memiliki anak-anak remaja itu salah satunya ada materi juga tentang bagaimana menggunakan gadget atau digitalisasi yang aman, yang bijaksana dan mendampingi putra-putrinya untuk bisa menggunakan gadget dengan baik gitu,” ujar Bunda Rini.

Meski begitu, Bunda Rini juga mengakui bahwa ancaman terhadap anak saat ini tidak lagi hanya berbentuk kekerasan verbal atau fisik di lingkungan sekitar. Tetapi, ancaman  juga berkembang dalam bentuk kekerasan digital seperti cyberbullying yang dapat terjadi melalui media sosial.

“Memang kita memberikan edukasi ibu-ibu ini kita juga kerja sama dengan Dinas Pendidikan. Dan Pak Wali Kota (Eri Cahyadi) juga menerapkan kebijakan pembatasan penggunaan gadget,” ungkapnya.

Menurutnya, edukasi kepada orang tua sangat penting karena ancaman digital sering luput dari perhatian. Seperti di antaranya dalam aplikasi atau gim yang digunakan anak terkadang memuat konten tidak layak melalui iklan atau fitur sponsor. “Salah satunya juga kita memberikan edukasi kepada orang tua, kita berikan materi aplikasi-aplikasi yang sekarang perlu ditindaklanjuti,” jelasnya.

Ia mencontohkan konten kekerasan seringkali muncul secara tidak langsung melalui iklan atau di dalam aplikasi permainan anak. Karena itu, orang tua perlu lebih waspada dan memahami potensi risiko tersebut.

“Nah, itu kan ibu-ibu kadang-kadang tidak memperhatikan. Misal mereka (anak-anak) lagi main gim, ada (muncul) sponsor mungkin hal-hal tentang kekerasan. Hal-hal seperti itu kita berikan edukasi untuk orang tuanya,” pungkasnya. (q cox)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *